Pages

BOTI

Berani, Optimis, Terampil, dan Inovatif

Jumat, 22 November 2013

AUTOBIOGRAFI

Muhammad Muhsin

Saya adalah anak terakhir dari delapan bersaudara yang satu-satunya anak yang bisa meneruskan jenjang pendidikan sampai kuliah. Rata-rata saudara saya hanya bisa menerukan jenjang pendidikan SLTP saja, yaaa.. beginilah bagi keluarga yang kurang mendukung dalam bidang ekonomi karena terlalu banyak tanggungan orang tua untuk menghidupi keluarga. Orang tua saya mencukupi kebutuhan sehari-hari dengan bekerja sebagai buruh tani dan juga pekebun.
            Saya akan bercerita sedikit tentang pendidikan saya. Saya bersekolah dari mulai TK (taman kanak-kanak) sampai SLTP di daerahku sendiri. Pada saat di SD kelas 4 saya belajar membantu kedua orang tua di sawah, kalau waktu untuk bermain jarang sekali saya lakukan bersama teman-teman, karena kalau di hitung-hitung pada waktu pagi sampai jam 3 sore saya kemudian membantu kedua orang tua saya di sawah, kenapa kok sampai jam 3 sore karena saya di suruh kedua orang  tua untuk belajar mengaji dari pada membantunya bekerja. Pada jenjang SLTA saya keluar di daerah saya sendiri  sekitar  jarak 30 km yang berbeda kecamatan. Pada saat di SLTA saya tidak pulang pergi dari sekolah ke rumah, karena sekeluarga tidak punya kendaraan sepedah motor untuk tinggalnya saya hidup di pesantren, naaaah saya sudah jauh dari orang tua dan mulai membiasakan tidak tergantung pada orang tua. Pada saat itu saya belajar masak nasi dll, yaaah.. kalau pertama kali memasak pasti tidak enak, tetapi saya senang walaupun itu tidak enak karena itulah masakan saya sendiri.
            Pada masa-masa sekolah SLTA  temanku pernah memberikan kata-kata begini “eehh dengaren aku delok  amu jajan (eeeh jarang saya lihat kamu jajan (membeli makanan ringan))”dia bersenyum kecil dan keheranan dengan muka yang mengangkat dahi,lalu saya bekata di hati ,“ya ya ya  aku terahe jarang jajan opo ora entuk (ya ya ya saya memang jarang membeli apa tidak bolih)”, saya hanya menatap dia dengan senyum juga dan agak menyingkir di depanya. Pada cerita di atas tadi emang saya jarang sekali perilaku  jajan (membeli makanan ringan). Mengapa ? karena apabila membeli makanan ringan yang harga 1000 rb saja saya harus menyisihkan uang dulu agar dapat membelinya  karena saya hanya diberi uang  untuk makan, untuk mengerjakan tugas di sekolah dll  (100 rb) dalam waktu satu bulan, oleh karena itu aku jarang jajan, jalan-jalan, pergi kesana- kemari. Dalam menambah uang saku saya jualan ketela goreng dimulai kelas satu sampai kelas dua SLTA karena uang yang diberikan orang tua saya  dan untuk masalah dalam biaya sekolah saya di biayai oleh saudara dari ibu di mulai pada saat saya menginjak pendidikan SD,SLTP, SLTA. Makanya saya masih bisa bersekolah.
            Kok bisa saya kuliah pada saat ini karena saya lagi-lagi mendapatkan dukungan oleh saudara ibu saya untuk mencari beasiswa, masalah biaya untuk pendaftaran dll di tanggung oleh saudaraku ini dan do’a restu kedua orang tua saya, mungkin kalau tidak ada dukungan saya pasti putus sekolah tidak melanjutkan karena ingin bekerja saja. Naah inilah ceritaku yang aku rangkum sedikit sekali dan terima kasih atas perhatianya. Pesan saya apabila saudara, teman,kerabat, orang lain, meminta bantuan  maka bantulah mereka, dan jangan merasa ragu untuk membantu. Pepatah mengatakan tangan yang di atas lebih baik dari pada tangan yang di bawah.


Helvy Ika Sa’diyah

RIWAYAT PENDIDIKAN
            Pendidikan saya dimulai pada saat saya memasuki Taman Kanak-kanak, ketika itu saya sedang berumur 6 tahun di sana saya diajarkan banyak hal yang menyenagkan dan bersifat mendidik meskipun dalam hati saya waktu itu masih belum terlalu suka karena saya belum ingin  berpisah dengan ibu saya walaupun hanya sebentar. Dalam menempuh pendidikan TK saya hanya memerlukan waktu satu tahun setelah itu saya melanjutkan sekolah saya di sebuah SD yang tidak jauh dari rumah saya. Di SD ini saya mulai lebih dalam mempelajari ilmu pengetahuan. Hari demi hari yang saya lalui di sekolah adalah belajar meskipun kadang waktu istirahat juga saya habiskan untuk bermain dengan teman-teman sekelas saya. Ketika saya memasuki jenjang SD kelas 6 saya sudah mulai serius untuk belajar karena di daerah saya masuk di sebuah SMP itu juga sangat sulit kalau kita tidak punya nilai yang baik. Setelah mengikuti penyaringan untuk masuk di sebuah SMP akhirnya saya diterima masuk di sebuah SMP yang lokasinya pun tidak terlalu jauh dari rumah saya. Di jenjang SMP ini semangat saya untuk belajar menurun karena terpengaruh oleh teman-teman saya, di jenjang SMP saya tidak serius dalam menjalani proses belajar, ketika di dalam kelas saya pun kurang memperhatikan pelajaran, ini tentunya berakibat pada prestasi belajar dan berakibat juga pada saat saya memasuki jenjang SMA, saya kesulitan mencari sekolah tapi setelah berusaha akhirnya saya dapat diterima di sebuah SMA yang lagi-lagi jaraknya tidak terlalu jauh dengan rumah saya.Di SMA Negeri yang terletak di kota kelahiran saya tersebut, saya mulai bangkit dan merubah total mengenai pandangan saya tentang pentingnya belajar. Awal perubahan ini bukan tanpa sebab, saya berubah pandangan seperti ini karena terinspirasi oleh kawan seperjuangan saya yang sekarang telah meraih mimpinya. Dia mengajarkan dan mencontohkan berbagai hal positif dalam dunia pendidikan. Meskipun kami seumuran namun kisah dan perjuangan dia sangat mendorong saya untuk selalu giat dalam belajar. Dia mengatakan bahwa jangan pernah takut bermimpi dan seseorang dalam hidup ini harus memiliki target atau mimpi karena dengan memiliki mimpi seseorang akan termotivasi atau terdorong untuk melakukan perbuatan yang positif. Dengan memegang prinsip tersebut kami mengarungi samudera masa-masa sulit untuk meraih mimpi kami masing-masing. Pada waktu SMA kami memiliki mimpi ingin masuk Universitas Negeri, kami sadar Universitas Negeri yang kami pilih tidak mudah untuk kami masuki. Kami pun berusaha keras untuk bisa lolos test masuk Universitas Negeri tersebut. Berbagai usaha kami jalani mulai dari belajar mandiri, belajar kelompok dan mengikuti bimbingan telah kami lakukan demi mewujudkan mimpi kami. Pada tahun ini ada 3 jalur yang dapat kita gunakan untuk masuk Universitas Negeri yang kami inginkan. Yang pertama yaitu lewat jalur SNMPTN ini adalah seleksi masuk perguruan tinggi dengan menggunakan metode seleksi nilai raport mulai dari semester 1-5 dan dari nilai-nilai tersebut tidak diperkenankan nilainya turun selain itu yang diprioritaskan dalam penyeleksian adalah Universitas dan jurusan pada pilihan pertama. Jika nilai turun dan pemilihan Universitas maupun jurusan tidak sebanding dengan nilai kemungkinan besar kita tidak bisa lolos oleh seleksi ini. Jika lewat jalur ini saya memang tidak terlalu percaya diri karena pada saat semester 1 dan 2 nilai saya masih bersifat fluktuatif sehingga kemungkinan saya lolos lewat jalur ini sangat tipis namun entah kenapa saya selalu optimis bisa lolos. Berbeda dengan teman yang telah menginspirasi saya, dia memiliki nilai yang baik dan stabil sehingga kemungkinan dia lolos jalur ini lebih besar. Waktu pengumuman penerimaan mahasiswa baru telah tiba dan ternyata benar teman saya lolos SNMPTN di Universitas Negeri yang dia impikan. Berbeda dengan saya untuk jalur SNMPTN ini saya tidak lolos. Pada saat itu hati saya sangat kecewa  dan bercampur dengan duka yang sangat dalam. Namun saya juga harus menyadari bahwa nilai raport saya memang kurang memuaskan. Saya memberi motivasi pada diri saya sendiri masih ada jalan lain menuju impian. Setelah saya gagal lolos di test SNMPTN saya mencoba masuk Perguruan Tinggi Negeri melalui jalur SBMPTN. Sebelumnya saya memang sudah mendengar bahwa masuk lewat jalur SBMPTN tidak kalah sulit dengan masuk Perguruan Tinggi Negeri yang melalui jalur SNMPTN, bedanya dalam test ini metodenya adalah melalui test tulis yang dilakukan di universitas-universitas yang di tunjuk oleh panitia SBMPTN. Pada saat test saya mengambil panitia lokasi di Universitas Negeri Malang. Pelaksanaan testnya memakan waktu 2 hari dengan jumlah bidang study yang diujikan sejumlah 8 mata pelajaran. Setelah test itu saya lalui dengan penuh perjuangan akhirnya waktu pengumumanpun tiba, alhamdulillah saya dapat lolos di Universitas Negeri seperti yang saya impikan sebelumnya, Universitas tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah Universitas Jember dan saya diterima di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar .Terimakasih mimpi telah memberikan makna yang begitu dalam pada perjalanan hidupku, tanpa mimipiku aku tidak mungkin sampai di tempat ini.Jangan pernah takut bermimpi karena mimpi bukan untuk ditakuti melainkan untuk dipenuhi.

Miftahul Jannah
Jatuh Itu Biasa
Semua berawal ketika aku berusia 7 tahun, yaitu pada saat aku memasuki Sekolah Dasar (SD). Sejak saat itu aku ingin sekali menjadi seorang guru, mungkin karna profesi orang tua yang semuanya adalah guru. Ayahku dan Ibuku adalah seorang guru SD, tapi mereka mengajar di tempat yang berbeda. Sejak aku dilahirkan Ibuku mengalami stroke dan sampai sekarang pun keadaannya masih sama dan malah semakin parah. Tapi beliau masih tetap mengabdikan diri sebagai seorang pendidik meskipun keadaannya terbatas. Karena keadaan beliau yang terbatas tersebut pernah suatu hari beliau di ejek sama salah satu muridnya yang menirukan gaya beliau berjalan yang tidak seperti orang normal pada umumnya. Tentu saja aku tidak terima dan aku langsung melempar anak itu dengan kursi, karena pada saat itu aku juga menjadi murid di SD tersebut. Hal tersebutlah yang membuatku semakin ingin menjadi seorang guru, karena melihat pengabdian Ibuku yang sangat luar biasa.
Namun semangat itu berubah setelah aku di tinggalkan oleh Ayah untuk selamanya pada saat aku duduk di bangku kelas 1 SMP. Dan aku masih ingat pesan Ayah sebelum beliau meninggalkan aku, “jadi orang itu yang kuat, mandiri, masak sampai tua nempel terus sama Ayah. Ayah kan nanti juga akan mati” , itulah kata-kata terakhir Ayah dengan nada marah. Semuanya berubah setelah Ayahku tidak ada. Dulu di SD aku selalu mendapat juara 3 teratas, tetapi saat di SMP nilaiku semua turun, dan aku hanya masuk 10 besar. Aku tau mungkin Ayahku kecewa disana, tapi aku juga tidak bisa menghentikan perubahan itu. Anehnya lingkungan yang ada di sekelilingku juga ikut berubah. Aku jadi anak yang nakal, tidak patuh sama orang tua dan sukanya main keluyuran. Tapi untungnya aku mempunyai Ibu yang luar biasa sabarnya. Dan beliau pernah bilang “ tidak usah di dengarkan apa kata orang, mereka belum tentu tau yang sebenarnya”. Kata – kata itu sudah melekat  di dalam diriku dan mulai saat itu aku berusaha merubah pola pikirku. Aku harus tetap semangat dalam belajar agar orang tuaku bangga dan tidak sia-sia membesarkan aku. Hal ini aku buktikan dengan nilai yang mulai naik saat kelas 2 SMP dan menjadi juara 4 paralel pada saat kelas 3 SMP.
Aku adalah termasuk orang yang mudah bergaul dengan siapa saja, baik itu anak nakal, pintar dan lain sebagainya. Tapi aku tetap melangkah di jalanku sendiri dan terus tetap ingat nasehat dari Ayah dan Ibu. Akan tetapi timbul masalah yang baru dalam kehidupanku, yaitu masalah percintaan. Hal ini terjadi ketika aku mulai masuk di SMA yang pada saat itu masih awal tahun ajaran baru. Aku bertemu dengan seorang laki-laki yang cukup tampan dan pada saat itu aku satu kelas dengannya. Ternyata dekat dengan dia membuat aku lupa akan tujuanku bersekolah. Aku terlalu bersenang-senang sehingga aku lupa waktu belajar dan mengerjakan tugas. Oleh karena itu nilai aku waktu SMA kelas 1 sangat jelek sekali. Sampai-sampai ada mata pelajaran yang aku tidak lulus,artinya aku harus mengulang atau remidi. Karena nilaiku tersebut aku akhirnya masuk jurusan IPS. Akan tetapi masuk IPS tidak terlalu buruk buatku, justru malah memotifasiku agar menjadi unggul dari siswa yag lain. Dan hal ini terbukti pada saat kelas 2 dan 3 SMA , aku selalu mendapat juara 2 di kelas. Aku sangat bersyukur bisa bangkit kembali dan membuat ibuku tersenyum bangga. Saat kelas 3 aku juga pernah di tunjuk ikut Olimpiade Ekonomi tingkat Jatim dan Bali, tentunya aku sangat bangga pada diriku sendiri. Selain di bidang akademik, aku juga suka dengan seni.  Aku pernah mendapat juara 1 lomba menyanyi di SMA. Aku sangat mencintai musik dan juga menari karena kata  Ayahku, aku punya bakat yang sama dengan kakakku di bidang seni musik.
Setelah lulus SMA aku melanjutkan untuk kuliah ke Perguruan Tinggi Negeri di Kotaku. Awalnya aku tidak yakin bisa melanjutkan kuliah karena biaya yang cukup mahal. Tapi untungnya pamanku yang baik hati mau bersedia membiayai kuliahku sampai aku menjadi sarjana. Aku kuliah mengambil jurusan FKIP PGSD S1 seperti yang aku cita-citakan sejak kecil. Karena aku ingin meneruskan dedikasi orang tuaku dan ingin membantu tujuan negara juga, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Dan aku yakin suatu saat nanti aku bisa membalas semua orang yang telah berjuang untukku dan membuat mereka tidak menyesal karena sudah mempercayaiku. Sebab motto dalam hidupku adalah “ apa yang kamu pikirkan itulah yang alam berikan” so, positive thinking dan terus melangkah kedepan.
Itulah sedikit  ulasan kisah hidupku mulai aku masuk SD sampai kuliah saat ini. Semoga Autobiografiku yang berjudul “Jatuh Itu Biasa” dapat menginspirasi pembaca dan bermanfaat bagi kita semua. Sekian, dan terima kasih.

Yuni Shofi Ambarwati

Saya adalah perempuan bisa yang lahir dari keluarga biasa saja. Saat umurku 4 tahun Saya mengenyam pendidikan  Taman Kanak-kanak selama 2 tahun. Disana kami diajarkan huruf dan seni. Kemudian Saya melanjutkan pendidikan di Sekolah Dasar yang berjarak agak dekat dengan rumahku. Biasanya Saya dan teman-temanku selalu berangkat dan pulang bersama karena sebagaian besar anak-anak tetangga Saya disekolahkan disana.
Sejak SD Saya selalu aktif dalam kegiatan sekolah, terutama di bidang kepramukaan. Saya selalu diundang untuk datang ke acara lomba kepramukaan. Saya sangat mencintai pramuka. Setiap jum’at sore Saya dan teman-temanku berlatih pramuka di sekolah. Kami bahkan tidak merasa lelah saat berlatih pramuka. Hingga Saya melanjutkan pendidikan di SMP, pramuka menjadi kegiatan ekstrSayalikuler favoritku.
Hingga saat itu tiba, penyakit itu telah merenggut semuanya. Pramuka Saya, diri Saya, dan senyum Saya. Systemic Lupus Erythematosus, suatu penyakit auto imun yang kronik dan menyerang berbagai system dalam tubuh.. Kira-kira hanya itu yang Saya tahu. Saat Saya tahu bahwa Saya mengidap penyakit ini, yang terlintas dipikiran Saya hanyalah suntik mati. Saya tidak mempunyai teman. Saya tidak melihat ketulusan di mata mereka. Mereka hanya berbelas kasih kepada Saya. Dan Saya membencinya. Masa SMP adalah masa terburuk, dan Saya tak ingin mengingatnya lagi.
Sesaat keinginan bunuh diri adalah hal yang sangat ingin untuk Saya lakukan. Titik puncaknya adalah ketika Saya merasa tidak mempunyai tempat untuk berlindung, berteduh, dan berkeluh kesah. Baik keluargaku, teman-temanku, dan orang-orang di sekitarku. Aku hampa, tidak dianggap, dan tidak mempunyai keinginan lagi untuk hidup. Akan tetapi air mata Ibu Saya adalah hal yang mampu membuatku sadar. Dia adalah orang satu-satunya yang bisa membuatku menyadari arti hidup ini. Seseorang yang ingin aku jadikan pedoman.
Lalu Saya mencoba untuk bangkit dari keterpurukan ini, walaupun tahap demi tahap. Perlahan-lahan Saya mencoba untuk melupakan kesedihan Saya dan sedikit demi sedikit itu bisa terobati. Akhirnya pada tahun 2010 Saya bisa lulus dan pergi dari SMP. Kemudian Saya melanjutkan pendidikan di SMA, setidaknya di sini Saya bisa memulai hidup yang baru. Saya berusaha melupakan masa-masa SMP, Saya berhasil. Saya baru bisa mendapatkan teman saat Saya kelas 3 SMA.
Walaupun waktunya singkat, Saya sangat bahagia. Saat kelas 3 SMA Saya diforsir untuk bisa menyerap semua mata pelajaran pokok. Karena pada saat itu kami berada dalam masa percobaan UN 20 paket. Akhirnya kami lulus 100%. Akan tetapi, masalah tidak berakhir di situ saja. Saya masih harus memilih tempat kuliah dan jurusan apa yang akan kami tempuh. Saya sangat bingung pada awalnya. Kemudian Saya berkonsultasi dengan orang tua Saya, dan mereka menyuruh Saya untuk berkuliah di Universitas Jember saja agar tidak terlalu jauh dari orang tua. Untuk masalah jurusan mereka menyuruh saya untuk memilih FKIP, mungkin karena bapak Saya adalah seorang guru. Tetapi untuk prody saya disuruh memilih sendiri.
Saya risau, kemudian Saya pergi berjalan-jalan di sawah. Lalu Saya melihat seorang anak SD berjalan menuju tempat orang tuanya bekerja. Hal yang membuat Saya tersentuh adalah Dia mengajari orang tuanya membaca dan menghitung. Ketika Saya bertanya kepada Dia mengapa Dia mengajari orang tuanya. Dia hanya menjawab “Agar Kami tidak ditipu oleh pemilik tanah dan Saya ingin membuat orang tua Saya merasakan pendidikan.”
Dari situ Saya sangat kagum sekali dengan Dia. Kemudian Saya memilih prody Pendidikan Guru Sekolah Dasar sebagai pilihan pertama di SNMPTN. Lalu Saya memilih Pendidikan Fisika di pilihan kedua. Lalu hari pengumuman lolos datang. Dan Alhamdulillah Saya diterima di pilihan pertama Saya. FKIP PGSD.
And here i’m...

Murni Windi Rahayu

SEJARAH MENUJU UNEJKU
            Aku anak sulung dari dua pahlawan hidup yang sangat saya cintai sebutlah pahlawan itu ayah dan ibuku. Aku  mempunyai seorang adik laki – laki yang cukup nakal, menjengkelkan tapi dia cerdas dan pintar jadi, tidak terlalu memalukanku untuk menjadi seorang kakak. Keluargaku cukup sederhana, biasa – biasa saja dimana bapakku setiap harinya berkutat dengan kayu, lalu ibukku selalu berada di dapur dengan senjata – senjata dapurnya lalu sementara aku dan adikku berkutat dengan buku setiap harinya. Aku dan keluargaku tinggal di desa kecil ujung barat Kota  yang dijuluki “Sunrise of Java”. Di kota inilah aku lahir , mengawali hidup, belajar dan mungkin nanti mengajar. Aku mengawali perjalanan belajar di sekolah dasar kecil di desaku, selama aku bersekolah disana banyak sekali moment yang cukup menyebalkan. Aku sedikit benci masa – masa SDku, aku sering tidak ditemani hanya karena masalah kecil, bahkan mukaku pernah ditonjok teman laki – lakiku saat bercanda hingga ibukku memarahi temanku itu di sekolah. Memalukan bukan? Dan satu lagi aku juga penah dipajak teman sekelasku dulu Rp 500/hari. Aku anggap masa – masa SDku itu masa terburuk dalam sejarah belajarku. Setelah enam tahun berlalu, aku lulus dan Alhamdulillah menjadi peringkat ke-2 di sekolahku dengan danum yang cukup memuaskan. Setidaknya masa SDku menjadi happy ending. Dengan bekal danum itu, aku melanjutkan ke sekolah yang aku idam – idamkan saat SD yaitu di MTsN (Madrasah Tsanawiyah Negeri) di kotaku dan Alhamdulillah aku masuk dengan urutan 147 diantara 300 siswa yang diterima, setidaknya berada di urutan zona aman dan tidak memalukan. Disekolah ini, aku memulai berhijab karena itu sudah menjadi tuntutan sekolah. Aku mendapat banyak ilmu dunia dan akhirat disini, seimbang bukan?. Aku mendapat banyak teman disini, dan aku menjadi sangat bahagia lagi karena memiliki empat sahabat. Dimana – mana kita selalu bersama bahkan teman – temanku yang lainnya berkata jika kita empat serangkai. Tapi sejarah prestasiku cukup dramatis, aku pernah mengalami jeblok prestasi hingga orangtuaku kecewa dan marah bayangkan saja peringkat ke-4 turun menjadi peringkat ke-7 dikelas. Namun, ketika orang tuaku marah aku juga merasa jengkel, tak terima dan aku berjanji akan memperbaiki nilaiku bagaimanapun caranya. Setelah aku naik ke kelas IX, Alhamdulillah usahaku tak sia – sia aku mendapat peringkat ke-3 dari 41 siswa dikelas. Sungguh itu kebahagiaan tak ternilai harganya. Aku bersama – sama sahabatku berpelukan dan mereka mengucapkan selamat padaku. Selama dua semester aku bisa mempertahankan peringkatku itu dan yang membuatku senang empat sahabatku mendapat peringkat 1, 2, aku peringkat 3 dan sahabatku yang terakhir peringkat 5. Setelah itu aku menjalankan UN, aku harus belajar dan harus masuk di SMA yang aku inginkan. Namun tak sesuai harapan, nilai UNku sudah tidak memungkinkan masuk di SMA yang aku inginkan. Memang nilai UNku cukup memuaskan tapi masih kurang untuk persyaratan masuk ke SMA itu dan lagi – lagi orangtuaku kecewa. Dua bulan pasca UN, sudah mulai gencar – gencarnya sekolah favorite membuka pendaftaran lebih awal dan salah satunya SMKN di kotaku. Ketika itu aku hanya ingin coba – coba mendaftar di SMK itu bersama dua sahabatku.  Ternyata tes demi tes yang aku lalui lolos dan aku diterima bersama salah satu sahabatku namun, kita beda jurusan. Aku tak menyangka bisa masuk di jurusan yang gradenya tinggi yaitu Akuntansi karena dari 2000 yang mendaftar diantaranya hanya 99 yang masuk Akuntansi, padahal aku hanya asal pilih karena aku penasaran ketika teman – temanku mayoritas memilih Akuntansi dan berkata sulit sekali masuk jurusan Akuntansi di SMK itu. Akhirnya aku menjadi siswa SMK, nyaliku ciut saat mengetahui jika teman – teman sekelasku adalah anak – anak berprestasi dari sekolah SMP favorite di kotaku sedangkan aku biasa – biasa saja. Selama enam semester sejarah prestasiku di SMK cukup buruk, memang kelas X aku mendapat peringkat ke-4 dari 33 siswa namun, di semester selanjutnya terus merosot hingga peringkat ke-7 dan paling buruk peringkat ke-13. Aku juga sempat ikut lomba debat bahasa inggris di sekolah mewakili kelasku dan bayangkan saja aku kalah 3 kali berturut – turut dalam ronde pertama, itu sangat memalukan sekali hingga aku malu bertemu guru bahasa inggrisku yang menjadi juri. Akhir semester aku menghadapi UN dimana angkatanku dijadikan kelinci percobaan UN dengan 20 paket. Alhamdulillah aku tetap menghasilkan nilai UN yang cukup memuaskan dan tak aku duga aku menjadi peringkat ke-7 nilai UN di kelasku. Setelah aku lulus SMK, aku berniat untuk melanjutkan ke jenjang perkuliahan. Disaat inilah pro kontra antara aku dan orang tuaku bermulai, orang tuaku ingin aku kuliah di perguruan tinggi negeri (PTN). Namun, orang tuaku tidak mampu untuk membiayai kuliah di PTN, lalu mereka memaksaku untuk kuliah di perguruan tinggi swasta (PTS) di kotaku berhubung aku direkomendasikan mendapatkan bantuan dari PTS tersebut. Keinginanku untuk kuliah di PTN cukup tinggi, aku secara tiba – tiba mengikuti jalur saringan PTN yaitu SNMPTN Bidikmisi dan ternyata orangtuaku menyetujui. Tapi, jika aku tidak masuk otomatis aku harus kuliah di PTS kotaku. Ketika pengumuman SNMPTN ku buka, aku gagal masuk di PTN yang aku idam – idamkan sejak masuk SMK. Seketika aku menangis dan orangtuaku bilang aku “APES”, itu kata – kata yang cukup menyakitkan. Lalu aku putuskan untuk pasrah dan akan kuliah di PTS kotaku. Satu bulan berlalu, aku diajak teman – teman SMKku untuk tes SBMPTN. Sempat aku menolak karena aku tahu jika SBMPTN itu sama dengan jalur normal yang biayanya cukup mahal. Namun, ada salah satu temanku berkata jika SBMPTN bisa dengan jalur Bidikmisi. Aku terhiur dan meminta tolong temanku itu untuk mengajariku mendaftar SBMPTN Bidikmisi. Dan pada saat itu pula pro kontra aku dan orangtuaku muncul kembali saat pemilihan jurusan dimana aku ingin tetap memilih jurusan Akuntansi yang sesuai dengan alur pendidikanku sedangkan orangtuaku menuntut aku memilih PGSD. Orangtuaku tetap bersikukuh dengan jurusan itu dan meyakinkanku, setelah beberapa saat aku mereung dan berfikir ternyata benar juga apa salahnya aku menuruti dan mencoba. Akhirnya aku memilih Universitas Jember jurusan PGSD, Pendidikan Ekonomi, dan Universitas di kota Apel jurusan Pendidikan Sejarah. Setelah aku selesai mengikuti tes dan pulang di kampong halaman, banyak orang termasuk teman bahkan saudaraku yang meragukanku untuk lolos tes alasannya karena aku berasal dari SMK tetapi soal tes adalah soal – soal SMA. Namun, mereka tak tahu jika selama itu aku sudah mengikuti 3 kali pelatihan SBMPTN di sekolah. Allahuakbar, ridho Allah benar- benar ridho orangtua, aku membuka pengumuman SBMPTN dan tak kusangka ternyata aku diterima di Universitas Jember jurusan PGSD yang gradenya tinggi. Orangtuaku bahagia, begitupun aku yang benar – benar mengharapkan kuliah di PTN. Meskipun aku berasal dari sekolah kejuruan, tapi nyatanya aku dapat lolos tes SBMPTN dan akan aku buktikan bahwa bukan hanya siswa SMA yng bisa kuliah di PTN, SMK juga bisa. Kini aku mempunyai banyak teman dari berbagai kota, agama dan ras seIndonesia di UNEJku, itu sangat menyenangkan. Dari sejarah pendidikanku aku tidak mencantumkan riwayat sekolah TK, mengapa?. Karena aku tidak lulus TK, aku sempat sekolah TK selama tiga hari di desaku dan selama tiga hari itupun aku menangis karena digoda teman - temanku dan selalu pulang lebih awal dengan sendirinya padahal belum saatnya pulang sekolah. Setelah tiga hari itu pula aku berhenti dan trauma untuk masuk sekolah TK.

Meylinda Ravicah Putry

Riwayat pendidikan saya dimulai dari taman kanak-kanak(TK) pada tahun 1999 kemudian lulus dari TK tahun 2001, kemudian melanjutkan di sekolah dasar(SD) pada tahun 2002 selama saya di SD saya akitf dalam mengikuti kegiatan pramuka dan kegiatan voli, tetapi saya memiliki kelemahan yang selalu menangis saat merasa dikucilkan namun masih ada pula hal menarik disaat saya bisa meningkatkan prestasi  saya sehingga saya bisa lulus pada tahun 2007 dan melanjutkan ke sekolah menengah pertama(SMP) selama saya di SMP banyak hal menarik dimana saya mulai beranjak remaja,selama di SMP saya pernah mengikuti kegiatan pramuka dan PMR dan adapun hobi yang saya miliki dalam bidang olahraga , jika membicarakan olahraga saya menyukai voli. Namun kekurangan saya itu di bidang organisasi , saya memang sulit beradaptasi dengan lingkungan baru terutama organisasi resmi. Setelah saya lulus SMP pada tahun 2009/2010 saya melanjutkan ke sekolah menegah atas(SMA)  saya mulai beradaptasi dengan lingungan sekitar tapi mungkin saya masih merasa canggung, saya menjalani hari demi hari dengan menjalankan kewajiban saya sebagai siswa. Saya pernah mengikuti kegiatan PMR namun belum sampai diklat saya sudah berhenti karena mengikuti kagiatan di luar sekolah yaitu JMB(Jember Marcing Band) dan saya mulai sibuk dengan aktivitas saya. Di saat saya mulai naik kelas 3 SMA saya mulai konsen dengan pelajaran dan banyak banget kegiatan tapi juga masa-masa paling menyenangkan disaat harus menikmati akhir-akhir masa sekolah. Sampai tiba saatnya saya harus berjuang menghadapi ujian-ujian dan pada akhirnya saya bisa lulus pada Tahun 2013 yang lebih menyenangkan lagi saya bisa diterima di perguruan tinggi jalur SNMPTN Universitas Jember jurusan PGSD, saya baru saja menempuh perguruan tinggi untuk menuju kesuksesan masa depan. Saya orangnya humoris, setidaknya menurut saya sendiri saya orangnya baik dan tidak sombong pada siapapun, ramah tamah apalagi kepada orang yang lebih tua daripada saya, suka menghargai orang lain karena sebelum kita menghargai diri kita sendiri maka terlebih dahulu hargailah orang lain jika kita menghargai orang lain maka orang lain pun akan menghargai kita, selain itu saya juga senang membuat orang tertawa karena sungguh salah satu kebahagian di dunia ini yang saya rasakan adalah ketika kita dikelilingi oleh orang-orang yang bahagia. Dan terakhir harapan saya ingin menjadi orang sukses dan membanggakan kedua orang tua saya dan semua orang di sekeliling saya ,saya akan selalu berusaha.

Hermawan

AUTOBIOGRAFI
Saya salah seorang mahasiswa PGSD FKIP Universitas Jember. Saya berasal dari kota Reog, Ponorogo.
Saya terlahir di keluarga sederhana. Ayah saya bekerja sebagai petani. Sedangkan ibu saya sebagai ibu rumah tangga. Saya anak ke dua dari dua bersaudara. Kakak saya perempuan, bekerja di Hongkong. Hobi saya bermain sepak bola dan bulu tangkis. Saya gemar bermain sepak bola karena saya mengidolakan kesebelasan asal London, Chelsea FC.  Selain itu, saya juga senang bermain bulu tangkis. Biasanya saya melakukan keduanya jika ada waktu senggang. Makanan kesukaan saya ayam goreng.
Sejak dulu saya ingin menjadi guru SD. Karena saya senang mengajar dan bercengkerama dengan anak kecil. Saya terinspirasi oleh salah satu guru saya sewaktu di SD dulu, karena beliau begitu bijaksana dan sabar dalam mengajar atau pun membimbing siswa. Pada saat itu beliau berpesan kepada saya untuk “ gantikan posisiku suatu saat nanti” kata beliau, hal ini mendorong saya untuk lebih giat belajar dan mewujudkan impian dengan sungguh-sungguh. Saya ingin meneruskan perjuangan beliau menjadi guru SD yang dapat menjadi contoh yang baik bagi siswa. Juga saya ingin menjalankan amanat orng tua agar menjadi apa yang di inginkan jangan terpengaruh oleh orang lain. Saya bersekolah TK selama dua tahun di salah satu kecamatan kota saya tinggal. Lalu saya bersekolah di SD juga di kecamatan yang sama. Prestasi saya saat itu hanya mendapat peringkat satu di kelas mulai dari kelas satu sampai kelas enam. Kemudian saya melanjutkan sekolah di SMP juga di kecamatan yang sama. Ketika bersekolah di sana saya mendapat peringkat lima besar dan dua kali mendapat juara pertama. Kemudian melanjutkan SMA yang letaknya dekat dengan rumah saya kira-kira jaraknya 300 meter. Di kelas X saya mendapat peringkat satu, alhamdulillah lanjut sampai kelas XI dan XIImendapat satu juga.
Sewaktu saya SD, saya aktif di TPQ dan pramuka, walaupun saya tidak ada prestasi. Di sinilah saya mempelajari banyak hal yang tak lama ini saya mulai merasakan manfaatnya. Saya juga masuk di grup kompang. Kami sering diundang untuk mengisi acara –acara di lingkungan sekitar. Di SMP saya aktif di pramuka walaupun awalnya hanya sekedar ikut-ikutan teman, tapi lama kelamaan juga menyenangkan. Kemudian lanjut di SMA saya juga aktif pada kegiatan pramuka, pada saat itu saya menjadi salah satu Dewan Kerja Ambalan di sekolah banyak hal baru yang dapat saya pelajari di situ.
Menjelang detik-detik UN 2013 ada pendaftaran SNMPTN saya ikut, pertama saya memilih jurusan PGSD di UNEJ, alhamdulillah pada waktu pengumuman nama saya tercantum sebagai salah satu dari banyak mahasiswa baru yang diterima. Syukur saya persembahkan kehadirat Allah SWT atas ridlo-Nya saya dapat diterima disini di Universitas Jember, untuk selanjutnya saya akan berusaha menjaga nama baik UNEJ dan belajar dengan sungguh-sungguh karena ini merupakan anugerah dan awal dari masa depan.
Ada satu hal yang saya nikmati, yaitu saya bahagia menjadi diri sendiri. Saya bersyukur dengan apa yang saya punya dan dapatkan saat ini. Saya tidak suka untuk mengikuti gaya yang biasanya teman –teman ikuti. Saya cenderung memilih apa yang menurut saya nyaman.
Saya simpulkan dari perjalanan selama ini kuncinya harus yakin pada apa yang kita inginkan jangan terpengaruh oleh orang lain. Saya juga memiliki motto “tetap semangat dalam hal apapun selama itu baik dan Experience is the best teacher”. Saya berharap agar saya dapat memiliki ketegaran hati dan semangat yang tinggi sehingga saya kelak dapat diandalkan di kehidupan bermasyarakat.

Maudy Claudia Pratiwi
Saya adalah anak perempuan yang terlahir pada tanggal 22 Desember 1994. Saya terlahir dari keluarga sederhana. Ayah saya seorang wiraswasta dan ibu saya adalah seorang ibu rumah tangga. Saya adalah anak pertama dari 3 berseudara. Saya memiliki adik laki-laki yang masih duduk di bangku SMP dan SD.
Saya memiliki hobi membaca dan menyanyi. Setiap ada waktu luang saya sering membaca novel, majalah ,dan buku-buku lainya. Dari kecil saya juga senang menyanyi. Dimana saja kapan saja saya biasa menyayi. Tidak tahu bakat itu timbul darimana, yang jelas aku suka nyanyi.
Saya bersekolah Tk pada umur 5 tahun di taman kanak-kenak yang tidak jauh dari rumahku. Saat di TK , saya sering mendapatkan prestasi di bidang seni seperti juara satu lomba menyayi, mewarnai dan juara tiga lomba fashion. Setelah lulus TK , pada tahun 2001 saya melanjutkan pendidikan Sd yang bisa dibilang bagus di kotaku. Saat di Sd saya selalu mendapat peringkat 3 besar di kelas. Bahkan saat kelas 4 dan 5 saya pernah meraih juara 1 di kelas. Setelah lulus Sd , pada tahun 2007 saya melanjutkan ke SMP negeri di tempat kelahiranku. Saya masuk SMP ini dengan tes tulis dan Alhamdulillah saya diterima di SMP ini. Saat di SMP saya mendapatkan peringkat 10 besar saat kelas VII , setelah naik kelas VIII saya mendapatkan peringkat 5 besar dan saat kelas IX Alhamdulillah saya meraih peringkat 3 besar.  Saya juga senang sekali saat saya lulus SMP dengan nilai yang baik.
Setelah lulus SMP pada tahun 2010 aku melanjutkan pendidikanku di SMA negeri yang bisa dibilang aku tidak mengharapkan masuk ke SMA ini. Tapi mungkin bukan rezekiku bisa masuk SMA favorit di kotaku. Namun setelah masuk SMA ini saya senang sekali bisa mendapatkan sahabat-sahabat yang baik dan guru-guru yang hebat. Saat di SMA saya juga sering dapat peringkat yang bagus di kelas. Saat kelas X saya meraih peringkat 10 besar di kelas saya. Saat kelas XII saya senang sekali bisa meraih peringkat 2. Saya tidak menyangka bisa mendapat peringkat 2 besar . setelah naik kelas 3 saya sedikit kecewa karena saya hanya mendapat peringkat 10 besar. Namun setelah saya melihat rapot , ternyata hanya peringkatnya saja yang turun dan nilainya tetap naik. Di SMA ini saya mendapat nilai UN yang dibilang tidak memuaskan. Saya kecewa dengan diri saya.
            Setelah  lulus Sekolah menengah pertama , saya melanjutkan ke Universitas Jembernya di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Saya masuk Universitas Jember melalui jalur mandiri. Untuk masuk Universitas Jember butuh perjuangan buatku. Awalnya saya mengikuti jalur SBMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) , namun sayangnya saya tidak diterima mungkin karena nilai saya yang kurang stabil saat di SMA. Saya sangat kecewa tidak bisa masuk jalur undangan. Setelah gagal masuk jalur SNMPTN , saya mengikuti jalur SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) dan saya gagal lagi. Saya menangis saat saya tahu saya tidak diterima di jalur SBMPTN. Akhirnya sayapun ikut les disuatu bimbingan belajar. Sayapun belajar siang malam , bertanya pada tentor dan teman teman dengan materi yang belum difahami. Dan setelah itu sayapun ikut jalur mandiri, dan betapa senangnya saat saya tahu saya diterima di fakultas yang saya impikan. Alhamdulillah…. Saya merasa senang selama Saya kuliah di Universitas jember ini dan Saya akan berusaha lebih baik lagi dari sebelumnya. Saya juga ingin menjadi orang yang bisa membanggakan orang tua .

Ramah Fadjriyah Rizkita

AUTOBIOGRAFI “MENGENALI DIRIKU”
Saya adalah seorang anak perempuan yang dilahirkan dari pasangan ayah dan ibu saya. Saya anak kedua dari tiga bersaudara.  Saat ini saya adalah mahasiswi 2013 di tempat ternama di kota saya. Saya memiliki kisah perjalanan yang sangat panjang di dalam mencapai cita-cita saya, cita-cita yang tertanam sejak di bangku sekolah dasar. Cita-cita saya adalah ingin menjadi seorang pendidik karena itu merupakan tugas mulia yang ingin saya genggam. Saya yakin untuk menggapainya tidak mudah, akan tetapi semuanya butuh awalan dan proses yang baik untuk menuju akhir yang baik pula. Salah satu yang menjadi langkah  di dalam menggapainya adalah menjalankan proses pendidikan. Berawal dari umur 5 tahun, saya memasuki taman kanak-kanak yang lokasinya tidak  jauh dari rumah. Setiap pagi saya menunggu becak yang sudah menjadi langganan untuk mengantarkan saya ke sekolah dengan bekal sebotol susu buatan ibu saya. Saya tidak pernah diantarkan atau di tunggu orang tua ketika di taman kanak-kanak kecuali sedang sakit. Hal itu memberikan pelajaran terhadap saya bahwa orang tua saya  menanamkan sikap kemandirian dalam diri saya sejak kecil. Ketika di taman kanak-kanak saya dilatih banyak ketrampilan dari menempel, membuat sesuatu dari kertas lipat, mewarnai,bernyanyi dan berolah raga. Semuanya butuh ketrampilan dan kreatifitas untuk menghasilkan sebuah karya yang berkualitas yaitu dapat memberikan warna yang sesuai pada gambar contoh rumput berwarna hijau, bernyanyi sesuai irama dan nada, dapat mengekspresikan lagu-lagu didalam gerakannya,  dan masih banyak lagi. Ketika berumur 7 tahun, saya melanjutkan ke sekolah dasar dan lokasinya juga tidak jauh dari rumah. Setiap hari pun saya berjalan kaki baik berangkat maupun pulang sekolah dengan teman-teman. Ketika dikelas satu,awal menjadi siswi baru, saya sudah mendapatkan hukuman berupa cubitan telinga dari ibu guru karena salah semua mengerjakan soal pertambahan pelajaran matematika sehingga memperoleh nilai nol. Semua itu memberikan sebuah pelajaran kepada saya sendiri untuk lebih teliti di dalam mengerjakan tugas. Dari kelas satu sampai kelas 6 saya di ajarkan untuk percaya diri  pada kemampuan sendiri baik di dalam mengerjakan tugas maupun pekerjaan rumah, di dalam ulangan pun tidak pernah ada yang saling menyontek satu sama lain, sehingga mengerjakannya dengan  pengetahuan sendiri yang sudah di pelajari. Semua itu di jalankan dengan kebiasaan dan akhirnya dapat menjadikan saya pribadi yang lebih percaya diri didalam berpengetahuan. Ketika umur 13 tahun, saya melnjutkan pendidikan ke jenjang SMP dan di tempuh selama 3 tahun. Ketika di SMP budaya di SD dulu yang sudah saya dapatkan tidak banyak yang menerapakannya. Akan tetapi saya harus terus mempertahankannya karena itu merupakan bekal ilmu dari pendidikan saya di sekolah dasar, apalah artinya jika kita berilmu tapi tidak menerapkannya dalam kehidupan.Ketika berumur 16 saya melanjutkan ke jenjang SMA, di SMA inilah saya memulai lagi menata seluruhnya dari jurusan yang ingin saya ambil, menentukan tempat kuliah yang akan di tempuh selanjutnya dan sesuai dengan cita-cita yang saya inginkan. Tahun 2013 tepat usia saya 19 tahun, saya lulus ujian nasional dengan nilai yang pas-pasan tetapi hasil pemikiran sendiri dan mendaftarkan diri pada tempat kuliah ternama di kota saya melalui jalur pertama, di mana jalur ini banyak sekali yang mengharapakannya karena tanpa tes hanya bermodal nilai ujian nasional dan nilai rapot selama 5 semester, akan tetapi saya gagal dalam seleksi jalur pertama ini. Saya tetap optimis dengan yang sudah saya lakukan dari berdoa, belajar, tidak putus asa, dan berusaha, sehingga saya memutuskan untuk mengikuti seleksi jalur ke dua dengan tes pengetahuan akademiknya. Saya mencantumkan fakultas yang sesuai dengan cita-cita saya itu pada pilihan yang pertama. Ketika mengerjakan tes saya di tuntut untuk menguasai dua bidang yaitu IPA dan IPS, padahal di SMA saya terfokus pada jurusan IPA, sedangkan prodi dalam fakultas yang saya pilih masuk di dalam bidang IPS. Itulah kesalahan saya karena kurang informasi yang baik dari awal dan sungguh tatanan dari awal baik akan membuat akhir yang baik pula. Setelah pengumuman berlangsung akhirnya saya tidak lolos kembali. Pasti ada rasa kecewa dari saya sendiri dan kedua orang tua, tapi saya berfikir lagi buat apa menangisinya dan memendam kecewa,semua akan sia-sia. Dengan semangat dan optimis saya mengikuti jalur ketiga atau jalur u jian mandiri dengan pilihan tetap tanpa merubah sedikitpun. Ketika bulan puasa saya harus terus berjuang, berdoa, dan semangat. Saya percaya Kegagalan adalah awal dari sebuah keberhasilan, dan siapa yang terus berusaha akan mendapatkan hasil yang terbaik. Pada hari senin,tepat jam 10 pagi pengumuman online memberitahukan bahwa saya lolos di fakultas yang saya pilih. Di hari itu perasaan senang dan lain-lain jadi satu, tak lupa mengucap syukur kepada Tuhan dan berterima kasih kepada orang tua yang selalu memberikan doa untuk saya. Akhirnya perjuangan selama berbulan-bulan untuk mendapatkan sebuah penerimaan dari sekolah yang saya inginkan berhasil dan semangat untuk menjalani sebuah proses di perguruan tinggi. Dan YAKINLAH BISA MAKA KITA PASTI BISA.      

Astri Wahyuningtyas

PERJALANAN ILMUKU
            Assalamualaikum Wr. Wb.
Perkenalkan, saya adalah mahasiswi prodi PGSD-FKIP-UNEJ angkatan tahun 2013. Saya lahir tahun 1996 di luar kabupaten Jember dari keluarga kurang mampu dan saya yang ingin mencukupi kebutuhan keluarga saya nantinya khususnya kebutuhan kedua orang tua saya. Saya ingin membahagiakan mereka, saya ingin mereka bangga bahwa tidak akan sia-sia mereka merawat dan mendidik saya sampai sekarang ini. Bapak saya seorang penjual tahu dan tempe keliling, yang setiap pagi setiap hari harus mengayuh sepeda tuanya agar bisa memenuhi kebutuhan keluarga termasuk kebutuhan pendidikan bagi ketiga anaknya, Ibu bekerja sebagai buruh setrika di rumah tetangga, mungkin karena kurangnya penghasilan bapak, jadi ibu ingin membantu menambah penghasilan keluarga.
Saya putri kedua dari tiga bersaudara. Kakak laki-laki saya (Alhamdulillah) sudah sarjana dan sudah bekerja dan adik perempuan saya masih duduk di bangku kelas enam Sekolah Dasar. Alhamdulillah… Keluarga saya masih termasuk keluarga yang utuh sampai sekarang ini. Banyak lika-liku perjalanan hidup dan pengalaman yang pernah saya alami selama hidup saya termasuk perjalanan hidup saya hingga akhirnya sekarang bisa menuntut ilmu di Universitas Jember. Universitas impian saya dan termasuk teman-teman saya.
            Yah.. keluarga saya memang keluarga yang kurang mampu. Bahkan untuk menyekolahkan saya dan kedua saudara saya di bangku Taman Kanak-kanak saja tidak bisa. Memang, saya dan kedua saudara saya tidak pernah mengenyam yang namanya Pendidikan Anak Usia Dini atau Taman Kanak-kanak, jadi maklum saja jika saya kurang tahu lagu anak-anak yang sering di nyanyikan di PAUD atau di TK. Saya memang tak mempunyai guru di TK, namun saya bangga mempunyai guru yang sejak saya masih bayi mengajarkan saya berbagai hal. Berhitung, menulis, membaca, bernyanyi, semua saya dapatkan dari guru kebanggan saya, yaitu IBU. Meskipun guru kebanggan saya bukan sarjana atau lulusan sekolah guru, namun guru yang  belum lulus Sekolah Dasar tersebut mampu menjadi guru TK yang menurut saya guru yang sebenarnya. Beliau, guru pertama yang saya temui dalam hidup saya. Guru yang tak butuh gaji setiap bulannya, guru yang tak ada batas usia pensiun, juga guru yang 24 jam mengajarkan berbagai hal pada anak-anaknya.
Dengan hanya berbekal pengetahuan yang saya dapatkan dari Ibu saya selama belajar di rumah. Ibu saya memberanikan diri mendaftarkan saya ke bangku Sekolah Dasar tahun 2001, usia saya masih belum genap 6 tahun yaitu masih 5 tahun lebih 4 bulan. Menurut cerita Ibu saya, saya sempat ditolak di SD tempat saya mendaftar tersebut karena faktor usia yang kurang mencukupi. Alasannya para guru takut jika saya tidak bisa menguasai materi di SD dan akhirnya ketinggalan dalam materi pelajaran. Tetapi Ibu saya tak berhenti sampai disitu saja untuk bisa menyekolahkan putrinya, Ibu berunding dengan kepala sekolah dan wali kelas 1. Ibu meyakinkan kepada mereka, jika di kelas saya termasuk anak yang ketinggalan dalam penguasaan materi pelajaran daripada teman-teman yang lain, pihak sekolah sangat boleh tidak menaikkan kelas saya. Dengan keterbukaan Ibu saya, maka pihak sekolah mau menerima saya menjadi siswa SD tersebut.
Terbukti…pada saat ajaran baru di mulai dan seiring dengan berjalannya proses belajar mengajar, saya cukup bisa menguasai semua mata pelajaran yang di ajarkan. Dan Ibu tak perlu menanggung malu jika putrinya tinggal kelas karena setiap tahun saya selalu naik kelas dan selalu meningkat dalam peraihan peringkat, yang pada kelas 1 masuk 20 besar pada akhirnya pada kelas 6 meraih peringkat 2. Saya lulus dari Sekolah Dasar tahun 2007.
Pada waktu pendaftaran SMP, lulusan tahun angkatan saya mengikuti tes tulis penerimaan siswa baru, nilai tes tersebut yang dipakai sebagai dasar dalam pemeringkatan nomer urutan calon peserta di setiap SMP. Nilai saya pada saat tes tersebut tidak terlalu bagus, jadi maklum saya ditolak oleh sekolah yang dianggap favorit. Saya melihat kekecewaan di mata Bapak saya ketika keinginannya ingin menyekolahkan saya di sekolah favorit tidak bisa terwujud. Tetapi bagi saya itu tak jadi masalah, menurut saya dimanapun kita menimba ilmu, di sekolah favorit sekalipun jika kita tidak bisa menyerap ilmunya, itu sama saja sia-sia. Beruntung, saya masih diterima di SMPN yang masih dalam urutan 5 besar terbaik di kota saya pada waktu itu.
Berbeda saat SD, saya selalu berjalan kaki setiap harinya, namun mengingat jarak rumah saya dan SMP tersebut cukup jauh, maka saya mengayuh sepeda setiap hari untuk bisa sampai ke depan “Pintu Gerbang Pendidikan”. Di awal tahun ajaran baru, saya masuk di kelas VIIC. Di kelas tersebut saya selalu masuk dalam urutan peringkat 3 besar dalam penerimaan nilai raport. Hari demi hari saya jalani dunia SMP termasuk proses belajar mengajarnya. Ketika masuk tahun kedua, saya masuk di kelas VIIIA. Tidak jauh berbeda pada saat kelas VII, saya masih bisa mempertahankan prestasi saya, semua saya jalani dengan ikhlas dan keinginan saya ingin membahagiakan kedua orang tua dan keluarga menjadi salah satu motivasi tersendiri dalam hidup saya. Masuk tahun ketiga ketika saya SMP, saya masuk di kelas IXB. Di kelas IX ini, saya meningkatkan kualitas dan kuantitas belajar saya, karena saya tahu bahwa sebagian besar penghuni di kelas saya adalah murid-murid yang termasuk berprestrasi. Tak sia-sia saya belajar giat, saya masih bisa masuk dalam urutan 3 besar di kelas pada waktu itu. Saat ujian SMP tiba, saya sangat berharap agar nilai saya memuaskan kedua orang tua saya. Saya lulus dan tak perlu mengikuti ujian susulan, namun saya mengecewakan mereka untuk kedua kalinya. Saya tidak bisa masuk dalam kategori peraih 10 besar terbaik nilai ujian dari 6 kelas pada waktu itu.
Karena nilai ujian yang dipakai untuk pendaftaran masuk SMA, alhasil saya tidak bisa lagi sekolah di sekolah favorit pada saat itu. Kegagalan besar yang saya alami untuk kedua kalinya. Nilai tersebut mengantarkan saya pada sebuah SMA pinggiran kota di tengah masyarakat yang mayoritas berbahasa madura. SMA ini sangat jauh dari rumah saya, jadi untuk bisa sampai ke sekolah, saya harus naik angkot. Maklum, pada saat itu saya masih belum mempunyai sepeda motor. Meskipun SMA ini sekolah negeri biasa, namun unsur keagamaannya kental sekali, serasa bersekolah di Madrasah Aliyah saja. Setiap pagi, 15 menit sebelum pelajaran dimulai, seluruh siswa dan guru harus sholat dhuha di masjid dan membaca 1 halaman Al-Qur’an yang dipandu oleh seorang siswa yang bergantian setiap harinya dengan menggunakan pengeras suara. Sekolah MAN yang bertetangga dengan sekolah saya saja tak sampai begitu.
Awal masuk tahun ajaran baru, saya duduk di kelas XE, kelas yang terkenal mayoritas anak nakal. Pada saat mata pelajaran geografi, saya dan teman-teman diberi informasi bahwa untuk sekarang ini semua bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Menurut guru geografi tersebut, biaya tak akan jadi masalah jika kita benar-benar niat ingin sekolah. Menurut beliau, negara mempunyai program beasiswa kepada para calon mahasiswa yang tergolong kurang mampu namun berprestasi dan mau melanjutkan kuliah, beasiswa bidik misi katanya.
Sejak saat mengetahui beasiswa tersebut, saya berusaha mendapatkan beasiswa itu, dengan tujuan ingin meringankan beban kedua orang tua dan ingin membanggakan mereka. Alhamdulillah…usaha yang diimbangi dengan tawakal, saya selalu masuk dalam urutan 5 besar paralel pada waktu itu. Saya sering mewakili sekolah dalam kegiatan olimpiade setingkat kota, meskipun tak ada satupun yang bisa saya menangkan, namun itulah pengalaman saya.
Ketika kelas XI, saya harus memilih 1 dari 3 jurusan di sekolah saya, karena pihak sekolah tidak bias menentukan saya harus masuk jurusan apa, mugkin karena nilai semua mapel di atas KKM. Saya lebih memilih jurusan IPS, karena bagi saya suka dengan mata pelajaran ekonomi pada waktu itu, dan tak yakin jika nantinya saya memilih jurusan IPA, saya bias menguasai mapel fisika dan kimia. Pilihan saya pada waktu itu sangan ditentang oleh pihak keluarga, mereka ingin saya masuk jurusan IPA. Saya berusaha meyakinkan mereka, karena tak semua orang bisa sukses yang hanya melalui rumpun ilmu pasti tersebut. Saya berjanji bahwa dengan memilih jurusan IPS tersebut, saya juga bisa membuat mereka bangga.
Di kelas XI ini, saya mendapatkan sahabat-sahabat terbaik saya, 3 orang sahabat yang sampai sekarang masih bersama saya di Universitas Jember ini. Ketika memasuki kelas XII, yang pada waktu itu masih persiapan melaksanakan Ujian Nasional dengan sistem20 paket setiap kelas, saya sangat berusaha menguasai materi UN, termasuk 3 mapel rumpun IPS. Saya tak ingin mengecewakan kedua orang tua untuk yang ketiga kalinya. Saya juga ingin mendapatkan beasiswa bidikmisi yang diberikan oleh negara itu. Ketika pengumuman hasil UN, saya masuk dalam peringkat 5 besar paralel jurusan IPS.
Perjalanan yang tak akan saya lupakan seumur hidup saya adalah ketika ingin memasuki dunia perkuliahan. Sekitar bulan Januari, ketika pendaftaran SNMPTN dan beasiswa bidikmisi dibuka, saya langsung mengikuti seleksi tersebut dan berharap lolos ketika pengumuman hasil SNMPTN. Saya mendaftar di 2 perguruan tinggi negeri, universitas negeri dan politeknik negeri. Namun, Allah SWT belum berpihak kepada saya, ternyata saya gagal untuk yang ketiga kalinya. Kedua perguruan tinggi tersebut belum bisa menerima saya menjadi calon mahasiswanya. Pada saat itu, saya merasa tak ada gunanya. Dari 4 orang yang bersahabat, hanya saya yang belum bisa lolos SNMPTN.
Namun, berkat motivasi orang tua, guru, sahabat dan orang-orang sekitar, saya mampu bangkit dan mempersiapkan diri untuk mengikuti UMPTN (Ujian Masuk Politeknik Negeri). Saya berangkat dengan teman-teman seperjuangan, berangkat shubuh pulang  malam. Saya beruntung, tes pada waktu itu dilaksanakan siang sampai sore hari, jadi saya tidak perlu menginap. Namun, kegagalan lagi yang hanya saya dapatkan. Nama saya tak tercantum disatu prodipun yang saya pilih. Saya gagal untuk yang keempat kalinya. Mulai saat itu, saya mulai tak ada semangat untuk melanjutkan study di bangku kuliah. Karena yang saya dapatkan hanya kegagalan, kegagalan dan kegagalan.
Ketika pendaftaran SBMPTN dibuka, saya tak ada niat mengikuti tes tersebut. Namun, ketika melihat wajah kedua orang tua yang penuh harapan, akhirnya saya memulai belajar lagi, mempersiapkan diri untuk SBMPTN itu. Saya mengikuti SBMPTN di UNEJ dan memilih  prodi-prodi di UNEJ pula. Namun, lagi-lagi kegagalan yang saya dapatkan. Saya serasa ditolak oleh UNEJ, meskipun saya sadar mungkin hasil SBMPTN saya tidak masuk dalam kriteria penerimaan. Sudah 5 kali saya gagal dalam hidup. Tidak diterimanya saya melalui jalur SBMPTN ini tak begitu membuat saya sampai menangis, karena memang dari awal saya tak ada niat mengikuti tes ini. Namun, saya sedih ketika melihat wajah kedua orang tua saya saat mengetahui  putrinya gagal lagi. Mulai dari itu, saya bangkit kembali, berkat mereka.
Ada jalur lagi yang pasti, yaitu UM lokal atau tes MANDIRI. Tes ini saya memang niatkan untuk kedua orang tua saya, saya usahakan untuk mereka. Meskipun saya tahu bahwa jalur ini lebih mahal 2 kali lipat dari SNMPTN juga SBMPTN. Namun, yang paling penting pada waktu itu adalah, saya diterima dulu baru nanti memikirkan cara mendapatkan uang. Maklum, kedua orang tua saya adalah keluarga pas-pasan. Pada waktu itu, saya mengikuti ujian di Universitas Jember. Belajar, berdoa, dan berserah diri kepada-Nyalah yang bisa saya lakukan. Entah mengapa, ketika tes ini berlangsung…saya begitu yakin dengan jawaban-jawaban saya. Saya cukup optimis lolos melalui jalur ini. Pilihan pertama saya adalah adalah Fakultas Ekonomi prodi akuntansi, dan pilihan kedua FKIP prodi PGSD.
Alhamdulillah…ketika pengumuman hasil UM-UNEJ, saya mendapat ucapan selamat dari kakak saya. Maklum, saya tak melihat sendiri hasil pengumumannya karena trauma dengan kegagalan-kegagalan yang pernah saya alami. Karena tak percaya dan ingin melihat sendiri hasilnya, jadi saya langsung pergi ke warnet untuk memastikan sendiri. Saya tidak lolos di pilihan pertama, namun di pilihan kedua yaitu, FKIP-PGSD. Inilah hasil dari kegagalanku yang berkali-kali, akhirnya saya bisa bersama-sama lagi dengan ketiga sahabat saya. Saya bisa kuliah, itu artinya saya membuat kedua orang tua saya bangga.
Nah, sekarang sudah bisa kuliah. Itu artinya harus membayar uang kuliah. Ketika Bapak saya verifikasi masalah uang UKT yang harus dibayar, ternyata saya terpilih di kelompok 2 yang harus membayar uang kuliah 2,5 juta rupiah setiap semester. Uang yang tak sedikit bagi keluarga saya. Bagaimana bisa kedua orang tua saya  mengumpulkan uang sebanyak itu dalam waktu 6 bulan, belum lagi biaya hidup selama saya di Jember, ditambah lagi kebutuhan sehari-hari kedua orang tua dan biaya sekolah adik. Saya sempat stress memikirkan hal tersebut, pernah berfikir ingin mengundurkan diri. Tapi Alhamdulillah…Bapak saya memperoleh uang pinjaman yang dipinjam dari tetangga untuk membayar biaya UKT pertama.
Namun, Allah SWT datang untuk membantu lewat teman saya yang sama-sama satu kota. Dia memberitahu jika ada pengumuman yang menyatakan, bahwa bagi calon mahasiswa UNEJ angkatan 2013 dari jalur masuk manapun yang memiliki kartu peserta bidikmisi, maka bisa mengajukan untuk memperoleh beasiswa bidikmisi tersebut. Saya langsung meluncur ke Jember sendirian keesokan harinya. Dan Alhamdulillah, sekarang saya menjadi salah satu penerima beasiswa yang diberikan negara tersebut. Beban orang tua menjadi lebih ringan dan dengan beasiswa tersebut, saya menjadi semakin semangat untuk terus belajar dengan baik dan giat di UNEJ-FKIP-PGSD.
Begitulah perjalanan saya hingga sampai di prodi PGSD tercinta ini. Semoga saya dan kita semua menjadi calon guru yang ikut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara yang menjadi salah satu tujuan nasional kita. Itu salah satu bentuk terima kasih saya kepada negara ini. Bentuk pengabdian karena membantu meringankan beban kedua orang tua saya.
Semoga apa yang saya bagikan diatas menjadi motivasi bagi kita semua. Percayalah bahwa menuju kesuksesan selalu disertai banyak kegagalan. Belajarlah dari kesalahan di masa lalu, mencoba dengan cara yang berbeda, dan selalu berharap untuk sebuah kesuksesan di masa depan. Semoga kita semua selalu membanggakan kedua orang tua, guru-guru kita, almamater kita, juga calon peserta didik kita nantinya. Amin Ya Rabbal Alamin.
Wassalamualaikum Wr. Wb.

Elma Deasy Maya Sahputri

            Aku adalah anak perempuan yang lahir dari sebuah keluarga sederhana ,dan anak pertama dari keluarga tersebut.Tiada hari yang pernah kulewatkan untuk bersyukur telah dilahirkan di keluarga sederhana ini namun penuh kebahagian dan kesehatan,kesehatan dan kasih sayang tulus dari kedua orang tua.Ayahku bekerja sebagai Tukang Bangunan,Ibuku tidak bekerja.
            Awal pendidikan ku dimulai di sebuah TK kecil tapi penuh kegembiraan di tempat kelahiranku selama 2 tahun,kemudian berlanjut ke jenjang pendidikan Sekolah Dasar selama 6 tahun,di SD ini aku pernah mendapat juara kelas beberapa kali,dilanjutkkan pendidikan jenjang SMP selama 3 tahun,lalu jenjang pendidikan SMA selama 3 tahun,semua jenjang pendidikan tersebut aku jalani dengan penuh kegembiraan dan kesungguhan hati dan saat ini di Universitas Negeri Jember.
            Untuk mencapai semua jenjang pendidikkan tersebut penuh perjuangan,tapi selalu ada canda tawa dalam setiap langkahnya.Seperti saat SMA aku mengikuti program undangan untuk masuk perguruan tinggi yang didinginkan,tapi beberapa hari setelah pengumuman kelulusan diumumkan bahwa aku tidak diterima melalui jalur undangan di Universitas yang ku inginkan,tapi sebelum mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi negeri aku juga mengikuti berbagai tes ujian masuk,seperti tes ujian masuk STIS,tapi gagal dan akhirnya perjuangan terakhir adalah mengikuti ujian masuk perguruan negeri dengan jalur tulis dengan beribu-ribu peserta,tapi pada akhirnya saya di terima di program dan Universitas yang aku pilih.
            Menjadi seorang guru adalah cita-citaku sejak kecil,sehingga saat diterima di program studi PGSD di Universitas Jember  ini aku sangat bersyukur.Motivasiku untuk  masuk ke program studi PGSD selain untuk menjadi guru,suka bersosialisasi dengan anak-anakjuga ingin mewujudkan mimpi dari orang tua untuk melihat anaknya sukses dan bisa lebih dari orang tuanya.Harapan untuk semua ini semoga aku menjadi orang sukses,guru yang baik,dapat membahagiakan orang tua dan dapat mengangkat derajad orang tua menjadi lebih baik.
            Kesuksesan ku di sertai doa orang tua dan untuk kebahagian orang tuaku di masa yang akan datang.

Devina Mega Malinda

Saya berasal dari keluarga yang sederhana, Alhamdulilah saya bersyukur bisa duduk di bangku perguruan tinggi seperti ini. Dulu pada waktu berumur 4tahun saya pernah bersekolah di sebuah Tk DI DESA, yaitu TK PGRI 1 Gambiran-Banyuwangi, kemudian saya melanjutkan di SD, SDN 3 Gambiran-Banyuwangi yang bertempat bersebelahan dengan TK PGRI 1, lalu melanjutkan SMP di MTSN Genteng-Banyuwangi dan selanjutnya di SMAN 2 Genteng-Banyuwangi. Sebuah kebanggaan dan keberuntungan serta sesuatu yang sangat luar biasa bagi saya bisa melanjutkan diperguruan tinggi, dngan perjuangan kedua orangtua saya, yang senantiasa selalu bekerja keras memeras keringat, tak kenal lelah, lupa akan waktu demi membiayai saya saat ini. Beribu syukur beribu terimakasih kepada Tuhan Yang Maha Esa yang selalu memberi rezeki berlimpah kepada kedua orangtua saya sehingga saya dapat menimba ilmu sejauh ini. Suatu kebanggaan tersendiri bagi saya bisa di terima di Universitas Jember tercinta. Yang merupakan sebuah Universitas yang ingin saya menjadi mahasiswi FKIP PGSD sejak saya duduk di bangku kelas 2 SMA. Pada ahirnya semua impian dan kemauan saya di kabulkan oleh Allah. Tentunya juga dengan doa kedua orangtua saya, keluarga dan dukungan dari teman-teman. Ahirnya saya benar-benar bisa menimba ilmu di Universitas Jember, meskipun dengan usaha yang tidak mudah, saingan yang tidak berjumlah sedikit, Jauh dengan keluarga dan orangtua tercinta bagi saya ini hal yang paling tersulit di hidup saya yang pernah saya alami, dan mereka juga yang telah mengobarkan semangat saya disini. Dengan semangat yang besar dan doa kedua orangtua saya alhamdululah ahirnya saya bisa berada di antara mereka. Karena tidak mudah, perlu usaha keras dan perjuangan yang berat maka saya tidak akan menyia nyiakan kesempatan ini. InsyaAllah saya akan belajar dengan sungguh-sungguh dan berusaha untuk lulus tepat pada waktunya, tidak mengecewakan kedua orangtua dan keluarga. Saya sangat bangga dan bahagia menjadi mahasiswi FKIP PGSD Universitas Jember. Mudah-mudahan semua ilmu yang saya gali bisa bermanfaat untuk para generasi / orang-orang di sekitar saya, bisa saya bagikan kepada mereka yang membutuhkan, agar menjadi manfaat bagi mereka dan barakah untuk saya sendiri.

Rahmatanti Lylamatiin

Waktu saya berumur 5 tahun oleh ibu, saya di sekolahkan kesebuah TK agar saya dapat belajar sambil bermain dan mendapatkan teman. Kedua orang tua saya bekerja sebagai pegawai negeri dan ibu saya seorang guru SD. Saya ingat betul hari pertama saya masuk di TK pagi itu setelah saya berseragam untuk pertama kalinya ibu membawakan tas sekolah saya dan membonceng saya dengan sepeda menuju TK. Sesampainya disana ibu tidak menunggu saya setelah saya masuk kelas ibu pergi waktu itu saya marah karena semua teman-teman saya ditunggu oleh orang tuanya dan saya tidak, semenjak hari itu saya tidak pernah mau lagi untuk pergi kesekolah. Bagaimanapun bujukan ibu, ayah, kakak-kakak, saya pun tetap tidak mau pergi sekolah. Jadi saya tidak pernah merasakan bangku taman kanak-kanak akibatnya tulisan saya jelek dan tidak pintar membuat origami. Akhirnya oleh ibu waktu saya berumur 6 tahun saya disekolahkan disekoalah ibu saya mengajar, senang rasanya karena saya mendahului teman-teman seusia saya. Hari pertama sama seperti tahun sebelumnya tapi kali ini ibu saya menunggu  tapi bukannya hanya menunggu ibu juga mengajar. Suatu hari saat saya tidak ingin dikelas saya keluar dan berkeliaran melihat kelas-kelas lain tanpa sengaja saya melihat ibu mengajar murid-muridnya, ibu benar-benar yang terbaik. Satu tahun kemudian saat hari pembagian rapot saya tidak naik kelas, jelas saja saya menangis dan malu masak anak seorang guru tidak naik kelas, semenjak saat itu juga saya giat belajar sendiri tanpa mau diajarkan oleh ibu. Tahun kedua dikelas satu saya naik kelas dan juga pindah ke SD yang lain karena rumah kami pindah, jujur saja walaupun ibu saya seorang guru SD yang sudah mengajar 25 tahun tapi saya tidak pernah diprivat oleh ibu saya karena dari kecil saya diajarkan untuk mandiri dalam segala hal termasuk belajar. Orang tua saya tidak pernah menanyakan PR hanya menyuruh saya belajar tapi mereka begitu perhatian dengan pendidikan saya. Meskipun terkadang saya mengecewakan tapi itu sudah yang terbaik kata mereka selalu begitu. Sebenaranya riwayat sekolah saya sedikit tragis. Saya SD 7 tahun waktu itu saya mengikuti tes masuk ke SMP favorit saya padahal biasanya menggunakan  NEM tapi tidak tahu kenapa waktu angkatan saya itu menggunakan tes masuk,  saya belajar berusaha keras tapi hasilnya zonk saya mengecewakan orang tua saya lagi. Ayah saya ingin memasukkan saya ke SMP di kota jadi saya harus mengikuti tes lagi karena SMP tersebut favorit dikota saya setelah tes keluar dan hasilnya saya diterima tapi ibu saya tidak setuju , saya kecewa dengan keputusan ibu karena jauh dari rumah itu alasan ibu, memang karena saya tinggal dikabupaten. Saya pun terombang ambing mencari sekolah. Ayah dan ibu mengantar saya kesebuah  SMP dikabupaten  yang  juga  jauh  dari rumahsaya di daftarkan dan saya diterima. 3 tahun di SMP itu sedikit menyiksa saya sebenarnya, karena saya harus pulang pergi menggunakan sepedah dengan jarak  ± 18 km dan juga sedikit ada rasa kecewa di lubuk hati saya karena saya sekolah tidak  di tempat  yang  saya inginkan. Hal itu membuat akhir  yang mengecewakan lagi, ada salah satu nilai saya yang tidak memenuhi standar tapi saya tetap lulus. Saat saya kelas 3 SMP  saya sudah memiliki keinginan ingin meneruskan disalah satu  SMA favorit saya yang  juga saat itu adalah tempat dimana kakak-kakak saya sekolah tapi kejadian 3thn  sebelumnya terjadi lagi  SMA  yang saya inginkan mengadakan tes masuk untuk pertama kalinya saya merasakan sebagai kelinci percobaan karena diangkatan saya selalu peraturan  baru. Tapi kakak kedua saya memberi motivasi pasti saya bisa memiliki almamater  yang dipakainya. Saya sangat bersemangat,  ada begitu banyak tes  yang  harus dilalui  1minggu jadwal tes. Saat tes pertama kakak saya  yang  nomor dua menunggu saya karena dia adalah siswa  di SMA itu, saya jadi tambah bersemangat saat keluar ruang ujian saya benar-benar yakin dengan ujian itu dan hasilnya menggembirakan awalnya saja karena saat tes terakhir saya tidak lulus,  saya benar-benar sedih padahal saya telah melewati banyak sekali tes tapi kurang terakhir saya gagal, gagal   lagi. Hari itu saya dibonceng sepedah  motor vespa kesayangan kakakku dan menangis memeluknya saya mengecewakan keluarga lagi.  Saat itu  orang tua saya gelisah karena saya belum mendapatkan sekolah. Kata ayah saya lebih baik mencarikan uang dari pada mencarikan saya sekolah kata-kata itu membuat saya semakin down.Tapi kakak-kakak saya memberikan semngat dan saya dianatar berkeliling melihat dan mencari info tentang cara mendaftar serta untuk menentukan SMA yang saya pilih, kami mulai dari pinggiran kabupaten sampai ketengah kota tapi saya memutuskan untuk dikota pasti ibu tidak mengizinkan saya. Dan akhirnya saya memilih sekolah pertama yang kami kunjungi, itu  pun tidak semudah bayangan saya, ternyata saya bersaing dengan banyak siswa lain. Penuh perjuangan lagi saya saat itu harus pulang pergi menunggu di sekolah hingga sore ditemani kakak saya saat itu saya berdoa agar tidak mengecewakan orang tua lagi. Mungkin memamng sudah takdirnya sekolah yang saya kunjungi pertama disitulah saya menimba ilmu serta mendapatkan berbagai pengalaman. Setelah saya diterima saya bertekad tidak untuk mengecewakan orang tua dan kakak-kakak saya lagi. Senang rasanya saya sudah berstatus pelajar SMA, ditahun pertama adalah penentuan untuk memilih jurusan dan saya ingin masuk jurusan IPA orang tuas aya juga menginginkan hal itu tapi saat pembagian rapot tertulis di depan kelas saya masuk jurusan IPS jadi saya tidak layak masuk jurusan IPA. Setelah saya masuk jurusan IPS ayah dan ibu memberi saran untuk saya mengambil kuliah PGSD tapi saya tidak mau, kakak saya yg pertama menyuruh saya mengambil jurusan ini, dan kakak saya yang kedua menyuruh saya mengambil jurusan itu. Saya bingung memikirkan itu semua selama kelas 11 saya ingin kuliah HI tapi suatu hari saat saya menjemput ibu kesekolahan yang juga tempat saya dulu bersekolah meskipun hanya 3thn. Saat itu saya melihat ibu saya mengajar siswa SD, saya teringat saat saya kecil begitu hebatnya ibuku saya membuat siswa-siswanya menjadi orang hebat pula. Saya mulai tertarik untuk dengan PGSD tetapi saya sembunyikan dari orang tua. Saat itu kakak kedua saya diterima di unej saya dan orang tua menjenguknya. Pertama kali tiba di kampus besar ini saya benar-benar tecengang hebat sekali kampus ini, saat itu saya dibawa ke FKIP dijelaskan kalau saya kuliah di PGSD disinilah kampusnya, pertama kali memasuki double W saya sangat yakin sekali ingin kuliah di kampus ini apalagi saat saya melihat gedung FKIP saya benar-benar telah memantapkan hati untuk kuliah dikampus ini. Sepulang dari itu saya belajar keras agar mendapatkan nilai yang maksimal jalan untuk memasuki kampus besar ini. Saat dikelas 12 saya mantap memilih kampus besar ini sebagai pilihan pertama dan jurusan pertama yang saya pilih adalah PGSD. Jadi jika ditanya kampus ini pilihan berapa saya tidak ragu untuk menjawab, UNEJ pilihan Pertama dan PGSD pilihan jurusan pertama saya. Tapi saat itu ada keraguan kemungkinan saya akan gagal. Saya menunggu cukup lama dengan hati gelisah tetapi saat saya membuka situs pengumuman tertulis SELAMAT ANDA DITERIMA DI UNIVERSITAS JEMBER JURUSAN PGSD tulisan ini membuat saya sangat lega sekaligus bangga ternyata keinginanan saya tercapai dan saya tidak mengecewakan orang tua saya lagi.

Tri Fantovi Yahya

Ikhtiar dan Tawakkal Demi Pencapaian yang Maksimal

Aku terlahir dari keluarga biasa tepat 18 tahun yang lalu di sebuah desa yang sangat terpencil tetapi sangat aku cintai sampai saat ini hingga seterusnya. Dulu, ketika aku kecil aku senang bermain bersama teman-teman yang usianya setara di desaku itu. Aku menatap masa depanku dengan penuh harapan. Entahlah aku lupa usiaku saat aku masuk SD dulu. Akan tetapi, yang pasti aku lulus SD tahun 2007, lulus SMP tahun 2010 dan lulus SMA tahun 2013. Pada kesempatan kali ini, aku akan menceritakan pengalamanku sewaktu menginjak bangku SMP dan SMA hingga ke perguruan tinggi. Kalau tidak salah aku masuk SMP tahun 2007. Aku jalani masa-masa SMP dengan penuh semangat. Hanya saja saat SMP kelas VII aku kesulitan mencari teman. Maklumlah dulu aku adalah orang yang pemalu dan sukanya diam daripada berbicara. Aku sangat kesulitan beradaptasi dengan teman-teman satu kelasku waktu itu. Aku paling tidak suka jika ada teman yang mengejek, menyepelekan, dan menjahiliku. Rasanya ingin sekali aku memukulnya, tapi aku tidak berani melakukan itu jadi aku hanya bersabar. Mengenai prestasiku, aku bersyukur masuk urutan sepuluh besar di kelas.
Memasuki kelas VIII aku diperkenalkan tentang ekstrakulikuler MTQ (Musabaqah Tilawatil Quran). Entah karena apa aku tertarik mengikuti ekstra itu. Di MTQ aku diajarkan tata cara membaca Al-Quran yang baik dan benar dengan menggunakan lagu. Awalnya memang sulit, tetapi lama-kelamaan aku mulai bisa menguasai bacaan dan cara melagukannya. Setelah mulai mahir, Aku diberi kesempatan untuk mengikuti suatu even perlombaan tingkat kecamatan dan aku bersyukur dapat menjadi juara 1 di perlombaan itu. Kemudian aku diutus untuk mewakili kecamatanku untuk mengikuti perlombaan MTQ tingkat Kabupaten. Awalnya aku tidak yakin bisa jadi juara lagi tapi di sisi lain aku bertekad untuk membahagiakan kedua orang tuaku. Persiapan menuju perlombaan pun aku jalani, dengan banyak belajar membaca dan dan melagukan ayat-ayat suci al-quran. Saat-saat perlombaan pun tiba, satu persatu peserta pun menunjukkan kemampuannya masing-masing. Tibalah saatnya giliranku. Aku berusaha untuk tenang dan optimis bisa menjadi juara lagi. Akhirnya pengumuman pun disampaikan dan puji syukur, aku dapat juara 1 dalam perlombaan itu. Aku bangga, senang, sekaligus terharu dengan pencapaianku saat itu. Aku juga senang bisa membuat orang tuaku bangga terhadapku. Namun sayang, disaat aku mengikuti perlombaan tingkat provinsi, aku menderita sakit batuk. Akhirnya aku pun mengundurkan diri mengikuti perlombaan itu. Tapi, aku tetap bersyukur Tuhan telah memberikan kesempatan kepadaku untuk membahagiakan kedua orang tuaku melalui prestasiku itu. Mengenai prestasiku di kelas, aku masuk peringkat 5 besar saat itu.
Menginjak bangku kelas IX, aku terus meningkatkan prestasiku dalam bidang akademik dengan terus belajar dan berdoa. Syukur alhamdulillah, usahaku tidak sia-sia. Aku masuk peringkat 3 besar di kelas dan lagi-lagi orang tuaku bangga terhadapku. Saat Ujian Nasional aku mencoba mengerjakan sesuai dengan kemampuanku dan saat pengumuman aku dinyatakan lulus.   Memasuki masa-masa SMA atau putih abu-abu, aku mencoba untuk lebih terbuka terhadap teman dan tidak menjadi orang yang pendiam dan pemalu lagi. Duduk di bangku kelas X aku ikut test untuk memperebutkan kursi di kelas terbaik saat itu yang dinamakan kelas bilingual. Alhamdulillah aku masuk dalam 30 siswa yang terpilih untuk masuk di kelas itu. Sejak masuk kelas itu, aku memperoleh banyak teman yang tidak aku temukan di bangku SMP. Akan tetapi, prestasiku di kelas itu menurun karena persaingan di kelas itu sangatlah ketat. Kelas XI aku mencoba ikut ekstrakulikuler musik dan aku diterima sebagai vokalis. Dari ekstra tersebut aku memperoleh pengalaman-pengalaman manggung saat ada even pentas seni di SMAku. Mengenai prestasiku saat itu, aku masuk peringkat sepuluh besar di kelas. Saat kelas XI ini aku mulai disibukkan dengan adanya bimbingan belajar hingga sore hari untuk persiapan UN.
Menginjak kelas XII, aku berhenti untuk mengikuti ektrakulikuler musik demi fokus belajar untuk meningkatkan prestasiku. Ternyata, usahaku kembali tidak sia-sia. Aku masuk peringkat 5 besar paralel kelas di semester 1. Saat-saat menegangkan di kelas XII adalah saat pelaksanaan Ujian Nasional yang saat itu terdapat 21 paket soal. Sebelum pelaksanaan UN, aku telah mempersiapkan jauh-jauh hari belajar dan tidak lupa berdoa terhadap Tuhan yang Maha Kuasa. Dan saat pengumuman pun tiba, alhamdulillah di sekolahku dinyatakan Lulus Ujian Nasional 100%. Perjuanganku tidak berhenti sampai disitu. Untuk memperebutkan kursi di perguruan tinggi, aku harus mengikuti seleksi SNMPTN undangan. Aku memasukkan program studi Pendidikan Agama Islam di UIN Malang sebagai prioritas utamaku. Akan tetapi, Tuhan berkata lain aku tidak lolos seleksi itu. Aku sedih tapi orang tuaku tetap memberikan semangat motivasi agar aku bisa bangkit lagi. Keesokan harinya ada berita bahwa akan dilaksanakan test tulis SBMPTN dan orang tuaku menyarankan agar aku ikut test itu.
Aku pun mulai belajar secara autodidak. Sebenarnya, teman-teman mengajakku ikut bimbingan atau les. Tapi, aku tidak mau membebankan kedua orang tuaku karena jika ikut bimbingan tersebut aku harus membayar 50.000 per minggunya sehingga akupun memutuskan untuk belajar sendiri dengan banyak mengerjakan soal-soal latihan SBMPTN. Ujian tersebut dilaksanakan di kota Jember selama 3 hari. Sebelum berangkat, aku tidak lupa meminta doa restu orang tuaku. Saat-saat ujian pun tiba. Aku mengerjakan soal-soal ujian dengan tenang dan penuh keyakinan. Dan saat pengumuman online, alhamdulillah aku dinyatakan lulus SBMPTN di Jurusan PGSD Universitas Jember. Suasana haru pun tumpah di rumahku saat itu. Aku langsung sujud syukur atas nikmat yang diberikan Tuhan kepadaku. Aku tidak menyangka bisa lolos seleksi itu. Di lain sisi, aku sedih mendengar kabar kalau teman-temanku tidak lolos seleksi itu. Tapi aku berdoa semoga Tuhan memberikan jalan terbaik untuk mereka. Begitulah perjalanan hidup singkatku semoga bisa menjadi inspirasi kita semua.




Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO

0 komentar:

Posting Komentar