Saya
adalah anak terakhir dari delapan bersaudara yang satu-satunya anak yang bisa
meneruskan jenjang pendidikan sampai kuliah. Rata-rata saudara saya hanya bisa
menerukan jenjang pendidikan SLTP saja, yaaa.. beginilah bagi keluarga yang
kurang mendukung dalam bidang ekonomi karena terlalu banyak tanggungan orang
tua untuk menghidupi keluarga. Orang tua saya mencukupi kebutuhan sehari-hari
dengan bekerja sebagai buruh tani dan juga pekebun.
Saya akan bercerita sedikit tentang
pendidikan saya. Saya bersekolah dari mulai TK (taman kanak-kanak) sampai SLTP
di daerahku sendiri. Pada saat di SD kelas 4 saya belajar membantu kedua orang
tua di sawah, kalau waktu untuk bermain jarang sekali saya lakukan bersama
teman-teman, karena kalau di hitung-hitung pada waktu pagi sampai jam 3 sore saya
kemudian membantu kedua orang tua saya di sawah, kenapa kok sampai jam 3 sore
karena saya di suruh kedua orang tua
untuk belajar mengaji dari pada membantunya bekerja. Pada jenjang SLTA saya
keluar di daerah saya sendiri sekitar
jarak 30 km yang berbeda kecamatan. Pada saat di SLTA saya tidak pulang
pergi dari sekolah ke rumah, karena sekeluarga tidak punya kendaraan sepedah
motor untuk tinggalnya saya hidup di pesantren, naaaah saya sudah jauh dari
orang tua dan mulai membiasakan tidak tergantung pada orang tua. Pada saat itu
saya belajar masak nasi dll, yaaah.. kalau pertama kali memasak pasti tidak
enak, tetapi saya senang walaupun itu tidak enak karena itulah masakan saya
sendiri.
Pada masa-masa sekolah SLTA temanku pernah memberikan kata-kata begini
“eehh dengaren aku delok amu jajan (eeeh
jarang saya lihat kamu jajan (membeli makanan ringan))”dia bersenyum kecil dan
keheranan dengan muka yang mengangkat dahi,lalu saya bekata di hati ,“ya ya
ya aku terahe jarang jajan opo ora entuk
(ya ya ya saya memang jarang membeli apa tidak bolih)”, saya hanya menatap dia
dengan senyum juga dan agak menyingkir di depanya. Pada cerita di atas tadi
emang saya jarang sekali perilaku jajan
(membeli makanan ringan). Mengapa ? karena apabila membeli makanan ringan yang
harga 1000 rb saja saya harus menyisihkan uang dulu agar dapat membelinya karena saya hanya diberi uang untuk makan, untuk mengerjakan tugas di
sekolah dll (100 rb) dalam waktu satu
bulan, oleh karena itu aku jarang jajan, jalan-jalan, pergi kesana- kemari.
Dalam menambah uang saku saya jualan ketela goreng dimulai kelas satu sampai
kelas dua SLTA karena uang yang diberikan orang tua saya dan untuk masalah dalam biaya sekolah saya di
biayai oleh saudara dari ibu di mulai pada saat saya menginjak pendidikan
SD,SLTP, SLTA. Makanya saya masih bisa bersekolah.
Kok bisa saya kuliah pada saat ini
karena saya lagi-lagi mendapatkan dukungan oleh saudara ibu saya untuk mencari
beasiswa, masalah biaya untuk pendaftaran dll di tanggung oleh saudaraku ini
dan do’a restu kedua orang tua saya, mungkin kalau tidak ada dukungan saya pasti
putus sekolah tidak melanjutkan karena ingin bekerja saja. Naah inilah ceritaku
yang aku rangkum sedikit sekali dan terima kasih atas perhatianya. Pesan saya
apabila saudara, teman,kerabat, orang lain, meminta bantuan maka bantulah mereka, dan jangan merasa ragu
untuk membantu. Pepatah mengatakan tangan yang di atas lebih baik dari pada
tangan yang di bawah.
Helvy Ika Sa’diyah
RIWAYAT PENDIDIKAN
Pendidikan
saya dimulai pada saat saya memasuki Taman Kanak-kanak, ketika itu saya sedang
berumur 6 tahun di sana saya diajarkan banyak hal yang menyenagkan dan bersifat
mendidik meskipun dalam hati saya waktu itu masih belum terlalu suka karena
saya belum ingin berpisah dengan ibu
saya walaupun hanya sebentar. Dalam menempuh pendidikan TK saya hanya
memerlukan waktu satu tahun setelah itu saya melanjutkan sekolah saya di sebuah
SD yang tidak jauh dari rumah saya. Di SD ini saya mulai lebih dalam
mempelajari ilmu pengetahuan. Hari demi hari yang saya lalui di sekolah adalah
belajar meskipun kadang waktu istirahat juga saya habiskan untuk bermain dengan
teman-teman sekelas saya. Ketika saya memasuki jenjang SD kelas 6 saya sudah
mulai serius untuk belajar karena di daerah saya masuk di sebuah SMP itu juga
sangat sulit kalau kita tidak punya nilai yang baik. Setelah mengikuti
penyaringan untuk masuk di sebuah SMP akhirnya saya diterima masuk di sebuah
SMP yang lokasinya pun tidak terlalu jauh dari rumah saya. Di jenjang SMP ini
semangat saya untuk belajar menurun karena terpengaruh oleh teman-teman saya,
di jenjang SMP saya tidak serius dalam menjalani proses belajar, ketika di
dalam kelas saya pun kurang memperhatikan pelajaran, ini tentunya berakibat
pada prestasi belajar dan berakibat juga pada saat saya memasuki jenjang SMA,
saya kesulitan mencari sekolah tapi setelah berusaha akhirnya saya dapat
diterima di sebuah SMA yang lagi-lagi jaraknya tidak terlalu jauh dengan rumah
saya.Di SMA Negeri yang terletak di kota kelahiran saya tersebut, saya mulai
bangkit dan merubah total mengenai pandangan saya tentang pentingnya belajar.
Awal perubahan ini bukan tanpa sebab, saya berubah pandangan seperti ini karena
terinspirasi oleh kawan seperjuangan saya yang sekarang telah meraih mimpinya.
Dia mengajarkan dan mencontohkan berbagai hal positif dalam dunia pendidikan.
Meskipun kami seumuran namun kisah dan perjuangan dia sangat mendorong saya
untuk selalu giat dalam belajar. Dia mengatakan bahwa jangan pernah takut
bermimpi dan seseorang dalam hidup ini harus memiliki target atau mimpi karena
dengan memiliki mimpi seseorang akan termotivasi atau terdorong untuk melakukan
perbuatan yang positif. Dengan memegang prinsip tersebut kami mengarungi samudera
masa-masa sulit untuk meraih mimpi kami masing-masing. Pada waktu SMA kami
memiliki mimpi ingin masuk Universitas Negeri, kami sadar Universitas Negeri
yang kami pilih tidak mudah untuk kami masuki. Kami pun berusaha keras untuk
bisa lolos test masuk Universitas Negeri tersebut. Berbagai usaha kami jalani
mulai dari belajar mandiri, belajar kelompok dan mengikuti bimbingan telah kami
lakukan demi mewujudkan mimpi kami. Pada tahun ini ada 3 jalur yang dapat kita
gunakan untuk masuk Universitas Negeri yang kami inginkan. Yang pertama yaitu
lewat jalur SNMPTN ini adalah seleksi masuk perguruan tinggi dengan menggunakan
metode seleksi nilai raport mulai dari semester 1-5 dan dari nilai-nilai
tersebut tidak diperkenankan nilainya turun selain itu yang diprioritaskan
dalam penyeleksian adalah Universitas dan jurusan pada pilihan pertama. Jika
nilai turun dan pemilihan Universitas maupun jurusan tidak sebanding dengan
nilai kemungkinan besar kita tidak bisa lolos oleh seleksi ini. Jika lewat
jalur ini saya memang tidak terlalu percaya diri karena pada saat semester 1
dan 2 nilai saya masih bersifat fluktuatif sehingga kemungkinan saya lolos
lewat jalur ini sangat tipis namun entah kenapa saya selalu optimis bisa lolos.
Berbeda dengan teman yang telah menginspirasi saya, dia memiliki nilai yang
baik dan stabil sehingga kemungkinan dia lolos jalur ini lebih besar. Waktu
pengumuman penerimaan mahasiswa baru telah tiba dan ternyata benar teman saya
lolos SNMPTN di Universitas Negeri yang dia impikan. Berbeda dengan saya untuk
jalur SNMPTN ini saya tidak lolos. Pada saat itu hati saya sangat kecewa dan bercampur dengan duka yang sangat dalam.
Namun saya juga harus menyadari bahwa nilai raport saya memang kurang
memuaskan. Saya memberi motivasi pada diri saya sendiri masih ada jalan lain
menuju impian. Setelah saya gagal lolos di test SNMPTN saya mencoba masuk
Perguruan Tinggi Negeri melalui jalur SBMPTN. Sebelumnya saya memang sudah
mendengar bahwa masuk lewat jalur SBMPTN tidak kalah sulit dengan masuk
Perguruan Tinggi Negeri yang melalui jalur SNMPTN, bedanya dalam test ini
metodenya adalah melalui test tulis yang dilakukan di universitas-universitas
yang di tunjuk oleh panitia SBMPTN. Pada saat test saya mengambil panitia
lokasi di Universitas Negeri Malang. Pelaksanaan testnya memakan waktu 2 hari
dengan jumlah bidang study yang diujikan sejumlah 8 mata pelajaran. Setelah
test itu saya lalui dengan penuh perjuangan akhirnya waktu pengumumanpun tiba,
alhamdulillah saya dapat lolos di Universitas Negeri seperti yang saya impikan
sebelumnya, Universitas tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah Universitas
Jember dan saya diterima di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi
Pendidikan Guru Sekolah Dasar .Terimakasih mimpi telah memberikan makna yang
begitu dalam pada perjalanan hidupku, tanpa mimipiku aku tidak mungkin sampai
di tempat ini.Jangan pernah takut bermimpi karena mimpi bukan untuk ditakuti
melainkan untuk dipenuhi.
Miftahul Jannah
Jatuh Itu Biasa
Semua berawal ketika aku berusia 7 tahun, yaitu pada saat aku memasuki Sekolah Dasar (SD). Sejak saat itu aku ingin sekali menjadi seorang guru, mungkin karna profesi orang tua yang semuanya adalah guru. Ayahku dan Ibuku adalah seorang guru SD, tapi mereka mengajar di tempat yang berbeda. Sejak aku dilahirkan Ibuku mengalami stroke dan sampai sekarang pun keadaannya masih sama dan malah semakin parah. Tapi beliau masih tetap mengabdikan diri sebagai seorang pendidik meskipun keadaannya terbatas. Karena keadaan beliau yang terbatas tersebut pernah suatu hari beliau di ejek sama salah satu muridnya yang menirukan gaya beliau berjalan yang tidak seperti orang normal pada umumnya. Tentu saja aku tidak terima dan aku langsung melempar anak itu dengan kursi, karena pada saat itu aku juga menjadi murid di SD tersebut. Hal tersebutlah yang membuatku semakin ingin menjadi seorang guru, karena melihat pengabdian Ibuku yang sangat luar biasa.
Namun semangat itu berubah setelah aku di tinggalkan oleh Ayah untuk selamanya pada saat aku duduk di bangku kelas 1 SMP. Dan aku masih ingat pesan Ayah sebelum beliau meninggalkan aku, “jadi orang itu yang kuat, mandiri, masak sampai tua nempel terus sama Ayah. Ayah kan nanti juga akan mati” , itulah kata-kata terakhir Ayah dengan nada marah. Semuanya berubah setelah Ayahku tidak ada. Dulu di SD aku selalu mendapat juara 3 teratas, tetapi saat di SMP nilaiku semua turun, dan aku hanya masuk 10 besar. Aku tau mungkin Ayahku kecewa disana, tapi aku juga tidak bisa menghentikan perubahan itu. Anehnya lingkungan yang ada di sekelilingku juga ikut berubah. Aku jadi anak yang nakal, tidak patuh sama orang tua dan sukanya main keluyuran. Tapi untungnya aku mempunyai Ibu yang luar biasa sabarnya. Dan beliau pernah bilang “ tidak usah di dengarkan apa kata orang, mereka belum tentu tau yang sebenarnya”. Kata – kata itu sudah melekat di dalam diriku dan mulai saat itu aku berusaha merubah pola pikirku. Aku harus tetap semangat dalam belajar agar orang tuaku bangga dan tidak sia-sia membesarkan aku. Hal ini aku buktikan dengan nilai yang mulai naik saat kelas 2 SMP dan menjadi juara 4 paralel pada saat kelas 3 SMP.
Aku adalah termasuk orang yang mudah bergaul dengan siapa saja, baik itu anak nakal, pintar dan lain sebagainya. Tapi aku tetap melangkah di jalanku sendiri dan terus tetap ingat nasehat dari Ayah dan Ibu. Akan tetapi timbul masalah yang baru dalam kehidupanku, yaitu masalah percintaan. Hal ini terjadi ketika aku mulai masuk di SMA yang pada saat itu masih awal tahun ajaran baru. Aku bertemu dengan seorang laki-laki yang cukup tampan dan pada saat itu aku satu kelas dengannya. Ternyata dekat dengan dia membuat aku lupa akan tujuanku bersekolah. Aku terlalu bersenang-senang sehingga aku lupa waktu belajar dan mengerjakan tugas. Oleh karena itu nilai aku waktu SMA kelas 1 sangat jelek sekali. Sampai-sampai ada mata pelajaran yang aku tidak lulus,artinya aku harus mengulang atau remidi. Karena nilaiku tersebut aku akhirnya masuk jurusan IPS. Akan tetapi masuk IPS tidak terlalu buruk buatku, justru malah memotifasiku agar menjadi unggul dari siswa yag lain. Dan hal ini terbukti pada saat kelas 2 dan 3 SMA , aku selalu mendapat juara 2 di kelas. Aku sangat bersyukur bisa bangkit kembali dan membuat ibuku tersenyum bangga. Saat kelas 3 aku juga pernah di tunjuk ikut Olimpiade Ekonomi tingkat Jatim dan Bali, tentunya aku sangat bangga pada diriku sendiri. Selain di bidang akademik, aku juga suka dengan seni. Aku pernah mendapat juara 1 lomba menyanyi di SMA. Aku sangat mencintai musik dan juga menari karena kata Ayahku, aku punya bakat yang sama dengan kakakku di bidang seni musik.
Setelah lulus SMA aku melanjutkan untuk kuliah ke Perguruan Tinggi Negeri di Kotaku. Awalnya aku tidak yakin bisa melanjutkan kuliah karena biaya yang cukup mahal. Tapi untungnya pamanku yang baik hati mau bersedia membiayai kuliahku sampai aku menjadi sarjana. Aku kuliah mengambil jurusan FKIP PGSD S1 seperti yang aku cita-citakan sejak kecil. Karena aku ingin meneruskan dedikasi orang tuaku dan ingin membantu tujuan negara juga, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Dan aku yakin suatu saat nanti aku bisa membalas semua orang yang telah berjuang untukku dan membuat mereka tidak menyesal karena sudah mempercayaiku. Sebab motto dalam hidupku adalah “ apa yang kamu pikirkan itulah yang alam berikan” so, positive thinking dan terus melangkah kedepan.
Itulah sedikit ulasan kisah hidupku mulai aku masuk SD sampai kuliah saat ini. Semoga Autobiografiku yang berjudul “Jatuh Itu Biasa” dapat menginspirasi pembaca dan bermanfaat bagi kita semua. Sekian, dan terima kasih.
Yuni Shofi Ambarwati
Saya adalah perempuan bisa yang lahir dari keluarga biasa saja. Saat umurku
4 tahun Saya mengenyam pendidikan Taman
Kanak-kanak selama 2 tahun. Disana kami diajarkan huruf dan seni. Kemudian Saya
melanjutkan pendidikan di Sekolah Dasar yang berjarak agak dekat dengan
rumahku. Biasanya Saya dan teman-temanku selalu berangkat dan pulang bersama
karena sebagaian besar anak-anak tetangga Saya disekolahkan disana.
Sejak SD Saya selalu aktif dalam kegiatan sekolah, terutama di bidang
kepramukaan. Saya selalu diundang untuk datang ke acara lomba kepramukaan. Saya
sangat mencintai pramuka. Setiap jum’at sore Saya dan teman-temanku berlatih
pramuka di sekolah. Kami bahkan tidak merasa lelah saat berlatih pramuka. Hingga
Saya melanjutkan pendidikan di SMP, pramuka menjadi kegiatan ekstrSayalikuler
favoritku.
Hingga saat itu tiba, penyakit itu telah merenggut semuanya. Pramuka Saya,
diri Saya, dan senyum Saya. Systemic Lupus Erythematosus, suatu penyakit auto
imun yang kronik dan menyerang berbagai system dalam tubuh.. Kira-kira hanya
itu yang Saya tahu. Saat Saya tahu bahwa Saya mengidap penyakit ini, yang
terlintas dipikiran Saya hanyalah suntik mati. Saya tidak mempunyai teman. Saya
tidak melihat ketulusan di mata mereka. Mereka hanya berbelas kasih kepada Saya.
Dan Saya membencinya. Masa SMP adalah masa terburuk, dan Saya tak ingin
mengingatnya lagi.
Sesaat keinginan bunuh diri adalah hal yang sangat ingin untuk Saya
lakukan. Titik puncaknya adalah ketika Saya merasa tidak mempunyai tempat untuk
berlindung, berteduh, dan berkeluh kesah. Baik keluargaku, teman-temanku, dan
orang-orang di sekitarku. Aku hampa, tidak dianggap, dan tidak mempunyai
keinginan lagi untuk hidup. Akan tetapi air mata Ibu Saya adalah hal yang mampu
membuatku sadar. Dia adalah orang satu-satunya yang bisa membuatku menyadari
arti hidup ini. Seseorang yang ingin aku jadikan pedoman.
Lalu Saya mencoba untuk bangkit dari keterpurukan ini, walaupun tahap demi
tahap. Perlahan-lahan Saya mencoba untuk melupakan kesedihan Saya dan sedikit
demi sedikit itu bisa terobati. Akhirnya pada tahun 2010 Saya bisa lulus dan
pergi dari SMP. Kemudian Saya melanjutkan pendidikan di SMA, setidaknya di sini
Saya bisa memulai hidup yang baru. Saya berusaha melupakan masa-masa SMP, Saya
berhasil. Saya baru bisa mendapatkan teman saat Saya kelas 3 SMA.
Walaupun waktunya singkat, Saya sangat bahagia. Saat kelas 3 SMA Saya
diforsir untuk bisa menyerap semua mata pelajaran pokok. Karena pada saat itu
kami berada dalam masa percobaan UN 20 paket. Akhirnya kami lulus 100%. Akan
tetapi, masalah tidak berakhir di situ saja. Saya masih harus memilih tempat
kuliah dan jurusan apa yang akan kami tempuh. Saya sangat bingung pada awalnya.
Kemudian Saya berkonsultasi dengan orang tua Saya, dan mereka menyuruh Saya
untuk berkuliah di Universitas Jember saja agar tidak terlalu jauh dari orang
tua. Untuk masalah jurusan mereka menyuruh saya untuk memilih FKIP, mungkin
karena bapak Saya adalah seorang guru. Tetapi untuk prody saya disuruh memilih
sendiri.
Saya risau, kemudian Saya pergi berjalan-jalan di sawah. Lalu Saya melihat
seorang anak SD berjalan menuju tempat orang tuanya bekerja. Hal yang membuat
Saya tersentuh adalah Dia mengajari orang tuanya membaca dan menghitung. Ketika
Saya bertanya kepada Dia mengapa Dia mengajari orang tuanya. Dia hanya menjawab
“Agar Kami tidak ditipu oleh pemilik tanah dan Saya ingin membuat orang tua Saya
merasakan pendidikan.”
Dari situ Saya sangat kagum sekali dengan Dia. Kemudian Saya memilih prody
Pendidikan Guru Sekolah Dasar sebagai pilihan pertama di SNMPTN. Lalu Saya
memilih Pendidikan Fisika di pilihan kedua. Lalu hari pengumuman lolos datang.
Dan Alhamdulillah Saya diterima di pilihan pertama Saya. FKIP PGSD.
And here i’m...
Murni Windi Rahayu
SEJARAH
MENUJU UNEJKU
Aku anak
sulung dari dua pahlawan hidup yang sangat saya cintai sebutlah pahlawan itu
ayah dan ibuku. Aku mempunyai seorang adik
laki – laki yang cukup nakal, menjengkelkan tapi dia cerdas dan pintar jadi,
tidak terlalu memalukanku untuk menjadi seorang kakak. Keluargaku cukup
sederhana, biasa – biasa saja dimana bapakku setiap harinya berkutat dengan
kayu, lalu ibukku selalu berada di dapur dengan senjata – senjata dapurnya lalu
sementara aku dan adikku berkutat dengan buku setiap harinya. Aku dan
keluargaku tinggal di desa kecil ujung barat Kota yang dijuluki “Sunrise of Java”. Di kota
inilah aku lahir , mengawali hidup, belajar dan mungkin nanti mengajar. Aku
mengawali perjalanan belajar di sekolah dasar kecil di desaku, selama aku
bersekolah disana banyak sekali moment yang cukup menyebalkan. Aku sedikit
benci masa – masa SDku, aku sering tidak ditemani hanya karena masalah kecil,
bahkan mukaku pernah ditonjok teman laki – lakiku saat bercanda hingga ibukku
memarahi temanku itu di sekolah. Memalukan bukan? Dan satu lagi aku juga penah
dipajak teman sekelasku dulu Rp 500/hari. Aku anggap masa – masa SDku itu masa
terburuk dalam sejarah belajarku. Setelah enam tahun berlalu, aku
lulus dan Alhamdulillah menjadi peringkat ke-2 di sekolahku dengan danum yang cukup
memuaskan. Setidaknya masa SDku menjadi happy ending. Dengan bekal danum itu,
aku melanjutkan ke sekolah yang aku idam – idamkan saat SD yaitu di MTsN
(Madrasah Tsanawiyah Negeri) di kotaku dan Alhamdulillah aku masuk dengan
urutan 147 diantara 300 siswa yang diterima, setidaknya berada di urutan zona
aman dan tidak memalukan. Disekolah ini, aku memulai berhijab karena itu sudah
menjadi tuntutan sekolah. Aku mendapat banyak ilmu dunia dan akhirat disini,
seimbang bukan?. Aku mendapat banyak teman disini, dan aku menjadi sangat
bahagia lagi karena memiliki empat sahabat. Dimana – mana kita selalu bersama
bahkan teman – temanku yang lainnya berkata jika kita empat serangkai. Tapi
sejarah prestasiku cukup dramatis, aku pernah mengalami jeblok prestasi hingga
orangtuaku kecewa dan marah bayangkan saja peringkat ke-4 turun menjadi
peringkat ke-7 dikelas. Namun, ketika orang tuaku marah aku juga merasa jengkel,
tak terima dan aku berjanji akan memperbaiki nilaiku bagaimanapun caranya.
Setelah aku naik ke kelas IX, Alhamdulillah usahaku tak sia – sia aku mendapat
peringkat ke-3 dari 41 siswa dikelas. Sungguh itu kebahagiaan tak ternilai
harganya. Aku bersama – sama sahabatku berpelukan dan mereka mengucapkan
selamat padaku. Selama dua semester aku bisa mempertahankan peringkatku itu dan
yang membuatku senang empat sahabatku mendapat peringkat 1, 2, aku peringkat 3
dan sahabatku yang terakhir peringkat 5. Setelah itu aku menjalankan UN, aku
harus belajar dan harus masuk di SMA yang aku inginkan. Namun tak sesuai
harapan, nilai UNku sudah tidak memungkinkan masuk di SMA yang aku inginkan.
Memang nilai UNku cukup memuaskan tapi masih kurang untuk persyaratan masuk ke
SMA itu dan lagi – lagi orangtuaku kecewa. Dua bulan pasca UN, sudah mulai
gencar – gencarnya sekolah favorite membuka pendaftaran lebih awal dan salah
satunya SMKN di kotaku. Ketika itu aku hanya ingin coba – coba mendaftar di SMK
itu bersama dua sahabatku. Ternyata tes
demi tes yang aku lalui lolos dan aku diterima bersama salah satu sahabatku
namun, kita beda jurusan. Aku tak menyangka bisa masuk di jurusan yang gradenya
tinggi yaitu Akuntansi karena dari 2000 yang mendaftar diantaranya hanya 99
yang masuk Akuntansi, padahal aku hanya asal pilih karena aku penasaran ketika
teman – temanku mayoritas memilih Akuntansi dan berkata sulit sekali masuk
jurusan Akuntansi di SMK itu. Akhirnya aku menjadi siswa SMK, nyaliku ciut saat
mengetahui jika teman – teman sekelasku adalah anak – anak berprestasi dari
sekolah SMP favorite di kotaku sedangkan aku biasa – biasa saja. Selama enam
semester sejarah prestasiku di SMK cukup buruk, memang kelas X aku mendapat
peringkat ke-4 dari 33 siswa namun, di semester selanjutnya terus merosot
hingga peringkat ke-7 dan paling buruk peringkat ke-13. Aku juga sempat ikut lomba
debat bahasa inggris di sekolah mewakili kelasku dan bayangkan saja aku kalah 3
kali berturut – turut dalam ronde pertama, itu sangat memalukan sekali hingga
aku malu bertemu guru bahasa inggrisku yang menjadi juri. Akhir semester aku
menghadapi UN dimana angkatanku dijadikan kelinci percobaan UN dengan 20 paket.
Alhamdulillah aku tetap menghasilkan nilai UN yang cukup memuaskan dan tak aku
duga aku menjadi peringkat ke-7 nilai UN di kelasku. Setelah aku lulus SMK, aku
berniat untuk melanjutkan ke jenjang perkuliahan. Disaat inilah pro kontra
antara aku dan orang tuaku bermulai, orang tuaku ingin aku kuliah di perguruan
tinggi negeri (PTN). Namun, orang tuaku tidak mampu untuk membiayai kuliah di
PTN, lalu mereka memaksaku untuk kuliah di perguruan tinggi swasta (PTS) di
kotaku berhubung aku direkomendasikan mendapatkan bantuan dari PTS tersebut.
Keinginanku untuk kuliah di PTN cukup tinggi, aku secara tiba – tiba mengikuti
jalur saringan PTN yaitu SNMPTN Bidikmisi dan ternyata orangtuaku menyetujui.
Tapi, jika aku tidak masuk otomatis aku harus kuliah di PTS kotaku. Ketika
pengumuman SNMPTN ku buka, aku gagal masuk di PTN yang aku idam – idamkan sejak
masuk SMK. Seketika aku menangis dan orangtuaku bilang aku “APES”, itu kata –
kata yang cukup menyakitkan. Lalu aku putuskan untuk pasrah dan akan kuliah di
PTS kotaku. Satu bulan berlalu, aku diajak teman – teman SMKku untuk tes
SBMPTN. Sempat aku menolak karena aku tahu jika SBMPTN itu sama dengan jalur
normal yang biayanya cukup mahal. Namun, ada salah satu temanku berkata jika
SBMPTN bisa dengan jalur Bidikmisi. Aku terhiur dan meminta tolong temanku itu
untuk mengajariku mendaftar SBMPTN Bidikmisi. Dan pada saat itu pula pro kontra
aku dan orangtuaku muncul kembali saat pemilihan jurusan dimana aku ingin tetap
memilih jurusan Akuntansi yang sesuai dengan alur pendidikanku sedangkan
orangtuaku menuntut aku memilih PGSD. Orangtuaku tetap bersikukuh dengan
jurusan itu dan meyakinkanku, setelah beberapa saat aku mereung dan berfikir
ternyata benar juga apa salahnya aku menuruti dan mencoba. Akhirnya aku memilih
Universitas Jember jurusan PGSD, Pendidikan Ekonomi, dan Universitas di kota
Apel jurusan Pendidikan Sejarah. Setelah aku selesai mengikuti tes dan pulang
di kampong halaman, banyak orang termasuk teman bahkan saudaraku yang
meragukanku untuk lolos tes alasannya karena aku berasal dari SMK tetapi soal
tes adalah soal – soal SMA. Namun, mereka tak tahu jika selama itu aku sudah
mengikuti 3 kali pelatihan SBMPTN di sekolah. Allahuakbar, ridho Allah benar-
benar ridho orangtua, aku membuka pengumuman SBMPTN dan tak kusangka ternyata
aku diterima di Universitas Jember jurusan PGSD yang gradenya tinggi.
Orangtuaku bahagia, begitupun aku yang benar – benar mengharapkan kuliah di
PTN. Meskipun aku berasal dari sekolah kejuruan, tapi nyatanya aku dapat lolos
tes SBMPTN dan akan aku buktikan bahwa bukan hanya siswa SMA yng bisa kuliah di
PTN, SMK juga bisa. Kini aku mempunyai banyak teman dari berbagai kota, agama
dan ras seIndonesia di UNEJku, itu sangat menyenangkan. Dari sejarah pendidikanku
aku tidak mencantumkan riwayat sekolah TK, mengapa?. Karena aku tidak lulus TK,
aku sempat sekolah TK selama tiga hari di desaku dan selama tiga hari itupun
aku menangis karena digoda teman - temanku dan selalu pulang lebih awal dengan
sendirinya padahal belum saatnya pulang sekolah. Setelah tiga hari itu pula aku
berhenti dan trauma untuk masuk sekolah TK.
Meylinda Ravicah Putry
Riwayat pendidikan saya dimulai dari taman kanak-kanak(TK) pada tahun
1999 kemudian lulus dari TK tahun 2001, kemudian melanjutkan di sekolah
dasar(SD) pada tahun 2002 selama saya di SD saya akitf dalam mengikuti kegiatan
pramuka dan kegiatan voli, tetapi saya memiliki kelemahan yang selalu menangis
saat merasa dikucilkan namun masih ada pula hal menarik disaat saya bisa
meningkatkan prestasi saya sehingga saya
bisa lulus pada tahun 2007 dan melanjutkan ke sekolah menengah pertama(SMP)
selama saya di SMP banyak hal menarik dimana saya mulai beranjak remaja,selama
di SMP saya pernah mengikuti kegiatan pramuka dan PMR dan adapun hobi yang saya
miliki dalam bidang olahraga , jika membicarakan olahraga saya menyukai voli.
Namun kekurangan saya itu di bidang organisasi , saya memang sulit beradaptasi
dengan lingkungan baru terutama organisasi resmi. Setelah saya lulus SMP pada
tahun 2009/2010 saya melanjutkan ke sekolah menegah atas(SMA) saya mulai beradaptasi dengan lingungan
sekitar tapi mungkin saya masih merasa canggung, saya menjalani hari demi hari
dengan menjalankan kewajiban saya sebagai siswa. Saya pernah mengikuti kegiatan
PMR namun belum sampai diklat saya sudah berhenti karena mengikuti kagiatan di
luar sekolah yaitu JMB(Jember Marcing Band) dan saya
mulai sibuk dengan aktivitas saya. Di saat saya mulai naik kelas 3 SMA saya
mulai konsen dengan pelajaran dan banyak banget kegiatan tapi juga masa-masa
paling menyenangkan disaat harus menikmati akhir-akhir masa sekolah. Sampai
tiba saatnya saya harus berjuang menghadapi ujian-ujian dan pada akhirnya saya
bisa lulus pada Tahun 2013 yang lebih menyenangkan lagi saya bisa diterima di
perguruan tinggi jalur SNMPTN Universitas Jember jurusan PGSD, saya baru saja
menempuh perguruan tinggi untuk menuju kesuksesan masa depan. Saya orangnya
humoris, setidaknya menurut saya sendiri saya orangnya baik dan tidak sombong
pada siapapun, ramah tamah apalagi kepada orang yang lebih tua daripada saya,
suka menghargai orang lain karena sebelum kita menghargai diri kita sendiri
maka terlebih dahulu hargailah orang lain jika kita menghargai orang lain maka
orang lain pun akan menghargai kita, selain itu saya juga senang membuat orang
tertawa karena sungguh salah satu kebahagian di dunia ini yang saya rasakan
adalah ketika kita dikelilingi oleh orang-orang yang bahagia. Dan terakhir
harapan saya ingin menjadi orang sukses dan membanggakan kedua orang tua saya
dan semua orang di sekeliling saya ,saya akan selalu berusaha.
Hermawan
AUTOBIOGRAFI
Saya salah seorang mahasiswa PGSD FKIP
Universitas Jember. Saya berasal dari kota Reog, Ponorogo.
Saya terlahir di keluarga sederhana.
Ayah saya bekerja sebagai petani. Sedangkan ibu saya sebagai ibu rumah tangga.
Saya anak ke dua dari dua bersaudara. Kakak saya perempuan, bekerja di Hongkong.
Hobi saya bermain sepak bola dan bulu tangkis. Saya gemar bermain sepak bola karena
saya mengidolakan kesebelasan asal London, Chelsea FC. Selain itu, saya juga senang bermain bulu
tangkis. Biasanya saya melakukan keduanya jika ada waktu senggang. Makanan
kesukaan saya ayam goreng.
Sejak dulu saya ingin menjadi guru
SD. Karena saya senang mengajar dan bercengkerama dengan anak kecil. Saya
terinspirasi oleh salah satu guru saya sewaktu di SD dulu,
karena beliau begitu bijaksana dan sabar dalam mengajar atau pun membimbing
siswa. Pada saat itu beliau berpesan kepada saya untuk “ gantikan posisiku
suatu saat nanti” kata beliau, hal ini mendorong saya untuk lebih giat belajar
dan mewujudkan impian dengan sungguh-sungguh. Saya ingin meneruskan perjuangan
beliau menjadi guru SD yang dapat menjadi contoh yang baik bagi siswa. Juga
saya ingin menjalankan amanat orng tua agar menjadi apa yang di inginkan jangan
terpengaruh oleh orang lain. Saya bersekolah TK selama dua tahun di salah satu
kecamatan kota saya tinggal. Lalu saya bersekolah di SD juga di kecamatan yang
sama. Prestasi saya saat itu hanya mendapat peringkat satu di kelas mulai dari
kelas satu sampai kelas enam. Kemudian saya melanjutkan sekolah di SMP juga di
kecamatan yang sama. Ketika bersekolah di sana saya mendapat peringkat lima
besar dan dua kali mendapat juara pertama. Kemudian melanjutkan SMA yang
letaknya dekat dengan rumah saya kira-kira jaraknya 300 meter. Di kelas X saya
mendapat peringkat satu, alhamdulillah lanjut sampai kelas XI dan XIImendapat
satu juga.
Sewaktu saya SD, saya aktif di TPQ
dan pramuka, walaupun saya tidak ada prestasi. Di sinilah saya mempelajari
banyak hal yang tak lama ini saya mulai merasakan manfaatnya. Saya juga masuk
di grup kompang. Kami sering diundang untuk mengisi acara –acara di lingkungan
sekitar. Di SMP saya aktif di pramuka walaupun awalnya hanya sekedar
ikut-ikutan teman, tapi lama kelamaan juga menyenangkan. Kemudian lanjut di SMA
saya juga aktif pada kegiatan pramuka, pada saat itu saya menjadi salah satu
Dewan Kerja Ambalan di sekolah banyak hal baru yang dapat saya pelajari di
situ.
Menjelang detik-detik UN 2013 ada
pendaftaran SNMPTN saya ikut, pertama saya memilih jurusan PGSD di UNEJ,
alhamdulillah pada waktu pengumuman nama saya tercantum sebagai salah satu dari
banyak mahasiswa baru yang diterima. Syukur saya persembahkan kehadirat Allah
SWT atas ridlo-Nya saya dapat diterima disini di Universitas Jember, untuk
selanjutnya saya akan berusaha menjaga nama baik UNEJ dan belajar dengan
sungguh-sungguh karena ini merupakan anugerah dan awal dari masa depan.
Ada satu hal yang saya nikmati,
yaitu saya bahagia menjadi diri sendiri. Saya bersyukur dengan apa yang saya
punya dan dapatkan saat ini. Saya tidak suka untuk mengikuti gaya yang biasanya
teman –teman ikuti. Saya cenderung memilih apa yang menurut saya nyaman.
Saya simpulkan dari perjalanan
selama ini kuncinya harus yakin pada apa yang kita inginkan jangan terpengaruh
oleh orang lain. Saya juga memiliki motto “tetap
semangat dalam hal apapun selama itu baik dan Experience is the best teacher”.
Saya berharap agar saya dapat memiliki ketegaran hati dan semangat yang tinggi
sehingga saya kelak dapat diandalkan di kehidupan bermasyarakat.
Maudy Claudia Pratiwi
Saya
adalah anak perempuan yang terlahir pada tanggal 22 Desember 1994. Saya
terlahir dari keluarga sederhana. Ayah saya seorang wiraswasta dan ibu saya
adalah seorang ibu rumah tangga. Saya adalah anak pertama dari 3 berseudara.
Saya memiliki adik laki-laki yang masih duduk di bangku SMP dan SD.
Saya
memiliki hobi membaca dan menyanyi. Setiap ada waktu luang saya sering membaca
novel, majalah ,dan buku-buku lainya. Dari kecil saya juga senang menyanyi.
Dimana saja kapan saja saya biasa menyayi. Tidak tahu bakat itu timbul
darimana, yang jelas aku suka nyanyi.
Saya
bersekolah Tk pada umur 5 tahun di taman kanak-kenak yang tidak jauh dari
rumahku. Saat di TK , saya sering mendapatkan prestasi di bidang seni seperti
juara satu lomba menyayi, mewarnai dan juara tiga lomba fashion. Setelah lulus
TK , pada tahun 2001 saya melanjutkan pendidikan Sd yang bisa dibilang bagus di
kotaku. Saat di Sd saya selalu mendapat peringkat 3 besar di kelas. Bahkan saat
kelas 4 dan 5 saya pernah meraih juara 1 di kelas. Setelah lulus Sd , pada
tahun 2007 saya melanjutkan ke SMP negeri di tempat kelahiranku. Saya masuk SMP
ini dengan tes tulis dan Alhamdulillah saya diterima di SMP ini. Saat di SMP
saya mendapatkan peringkat 10 besar saat kelas VII , setelah naik kelas VIII
saya mendapatkan peringkat 5 besar dan saat kelas IX Alhamdulillah saya meraih
peringkat 3 besar. Saya juga senang
sekali saat saya lulus SMP dengan nilai yang baik.
Setelah
lulus SMP pada tahun 2010 aku melanjutkan pendidikanku di SMA negeri yang bisa
dibilang aku tidak mengharapkan masuk ke SMA ini. Tapi mungkin bukan rezekiku
bisa masuk SMA favorit di kotaku. Namun setelah masuk SMA ini saya senang
sekali bisa mendapatkan sahabat-sahabat yang baik dan guru-guru yang hebat.
Saat di SMA saya juga sering dapat peringkat yang bagus di kelas. Saat kelas X
saya meraih peringkat 10 besar di kelas saya. Saat kelas XII saya senang sekali
bisa meraih peringkat 2. Saya tidak menyangka bisa mendapat peringkat 2 besar .
setelah naik kelas 3 saya sedikit kecewa karena saya hanya mendapat peringkat
10 besar. Namun setelah saya melihat rapot , ternyata hanya peringkatnya saja
yang turun dan nilainya tetap naik. Di SMA ini saya mendapat nilai UN yang
dibilang tidak memuaskan. Saya kecewa dengan diri saya.
Setelah lulus Sekolah menengah pertama , saya
melanjutkan ke Universitas Jembernya di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
(FKIP) prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Saya masuk Universitas Jember
melalui jalur mandiri. Untuk masuk Universitas Jember butuh perjuangan buatku.
Awalnya saya mengikuti jalur SBMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi
Negeri) , namun sayangnya saya tidak diterima mungkin karena nilai saya yang
kurang stabil saat di SMA. Saya sangat kecewa tidak bisa masuk jalur undangan.
Setelah gagal masuk jalur SNMPTN , saya mengikuti jalur SBMPTN (Seleksi Bersama
Masuk Perguruan Tinggi Negeri) dan saya gagal lagi. Saya menangis saat saya
tahu saya tidak diterima di jalur SBMPTN. Akhirnya sayapun ikut les disuatu
bimbingan belajar. Sayapun belajar siang malam , bertanya pada tentor dan teman
teman dengan materi yang belum difahami. Dan setelah itu sayapun ikut jalur
mandiri, dan betapa senangnya saat saya tahu saya diterima di fakultas yang
saya impikan. Alhamdulillah…. Saya merasa senang selama Saya kuliah di
Universitas jember ini dan Saya akan berusaha lebih baik lagi dari sebelumnya.
Saya juga ingin menjadi orang yang bisa membanggakan orang tua .
Ramah Fadjriyah Rizkita
AUTOBIOGRAFI
“MENGENALI DIRIKU”
Saya
adalah seorang anak perempuan yang dilahirkan dari pasangan ayah dan ibu saya.
Saya anak kedua dari tiga bersaudara. Saat ini saya adalah mahasiswi 2013 di tempat
ternama di kota saya. Saya memiliki kisah perjalanan yang sangat panjang di
dalam mencapai cita-cita saya, cita-cita yang tertanam sejak di bangku sekolah
dasar. Cita-cita saya adalah ingin menjadi seorang pendidik karena itu
merupakan tugas mulia yang ingin saya genggam. Saya yakin untuk menggapainya
tidak mudah, akan tetapi semuanya butuh awalan dan proses yang baik untuk
menuju akhir yang baik pula. Salah satu yang menjadi langkah di dalam menggapainya adalah menjalankan proses
pendidikan. Berawal dari umur 5 tahun, saya memasuki taman kanak-kanak yang lokasinya
tidak jauh dari rumah. Setiap pagi saya
menunggu becak yang sudah menjadi langganan untuk mengantarkan saya ke sekolah
dengan bekal sebotol susu buatan ibu saya. Saya tidak pernah diantarkan atau di
tunggu orang tua ketika di taman kanak-kanak kecuali sedang sakit. Hal itu
memberikan pelajaran terhadap saya bahwa orang tua saya menanamkan sikap kemandirian dalam diri saya
sejak kecil. Ketika di taman kanak-kanak saya dilatih banyak ketrampilan dari
menempel, membuat sesuatu dari kertas lipat, mewarnai,bernyanyi dan berolah
raga. Semuanya butuh ketrampilan dan kreatifitas untuk menghasilkan sebuah
karya yang berkualitas yaitu dapat memberikan warna yang sesuai pada gambar
contoh rumput berwarna hijau, bernyanyi sesuai irama dan nada, dapat mengekspresikan
lagu-lagu didalam gerakannya, dan masih
banyak lagi. Ketika berumur 7 tahun, saya melanjutkan ke sekolah dasar dan
lokasinya juga tidak jauh dari rumah. Setiap hari pun saya berjalan kaki baik
berangkat maupun pulang sekolah dengan teman-teman. Ketika dikelas satu,awal
menjadi siswi baru, saya sudah mendapatkan hukuman berupa cubitan telinga dari
ibu guru karena salah semua mengerjakan soal pertambahan pelajaran matematika
sehingga memperoleh nilai nol. Semua itu memberikan sebuah pelajaran kepada saya
sendiri untuk lebih teliti di dalam mengerjakan tugas. Dari kelas satu sampai
kelas 6 saya di ajarkan untuk percaya diri
pada kemampuan sendiri baik di dalam mengerjakan tugas maupun pekerjaan
rumah, di dalam ulangan pun tidak pernah ada yang saling menyontek satu sama
lain, sehingga mengerjakannya dengan
pengetahuan sendiri yang sudah di pelajari. Semua itu di jalankan dengan
kebiasaan dan akhirnya dapat menjadikan saya pribadi yang lebih percaya diri
didalam berpengetahuan. Ketika umur 13 tahun, saya melnjutkan pendidikan ke
jenjang SMP dan di tempuh selama 3 tahun. Ketika di SMP budaya di SD dulu yang
sudah saya dapatkan tidak banyak yang menerapakannya. Akan tetapi saya harus
terus mempertahankannya karena itu merupakan bekal ilmu dari pendidikan saya di
sekolah dasar, apalah artinya jika kita berilmu tapi tidak menerapkannya dalam
kehidupan.Ketika berumur 16 saya melanjutkan ke jenjang SMA, di SMA inilah saya
memulai lagi menata seluruhnya dari jurusan yang ingin saya ambil, menentukan
tempat kuliah yang akan di tempuh selanjutnya dan sesuai dengan cita-cita yang
saya inginkan. Tahun 2013 tepat usia saya 19 tahun, saya lulus ujian nasional
dengan nilai yang pas-pasan tetapi hasil pemikiran sendiri dan mendaftarkan
diri pada tempat kuliah ternama di kota saya melalui jalur pertama, di mana
jalur ini banyak sekali yang mengharapakannya karena tanpa tes hanya bermodal
nilai ujian nasional dan nilai rapot selama 5 semester, akan tetapi saya gagal
dalam seleksi jalur pertama ini. Saya tetap optimis dengan yang sudah saya
lakukan dari berdoa, belajar, tidak putus asa, dan berusaha, sehingga saya
memutuskan untuk mengikuti seleksi jalur ke dua dengan tes pengetahuan
akademiknya. Saya mencantumkan fakultas yang sesuai dengan cita-cita saya itu
pada pilihan yang pertama. Ketika mengerjakan tes saya di tuntut untuk
menguasai dua bidang yaitu IPA dan IPS, padahal di SMA saya terfokus pada
jurusan IPA, sedangkan prodi dalam fakultas yang saya pilih masuk di dalam
bidang IPS. Itulah kesalahan saya karena kurang informasi yang baik dari awal
dan sungguh tatanan dari awal baik akan membuat akhir yang baik pula. Setelah
pengumuman berlangsung akhirnya saya tidak lolos kembali. Pasti ada rasa kecewa
dari saya sendiri dan kedua orang tua, tapi saya berfikir lagi buat apa
menangisinya dan memendam kecewa,semua akan sia-sia. Dengan semangat dan
optimis saya mengikuti jalur ketiga atau jalur u jian mandiri dengan pilihan
tetap tanpa merubah sedikitpun. Ketika bulan puasa saya harus terus berjuang,
berdoa, dan semangat. Saya percaya Kegagalan adalah awal dari sebuah
keberhasilan, dan siapa yang terus berusaha akan mendapatkan hasil yang
terbaik. Pada hari senin,tepat jam 10 pagi pengumuman online memberitahukan
bahwa saya lolos di fakultas yang saya pilih. Di hari itu perasaan senang dan
lain-lain jadi satu, tak lupa mengucap syukur kepada Tuhan dan berterima kasih
kepada orang tua yang selalu memberikan doa untuk saya. Akhirnya perjuangan
selama berbulan-bulan untuk mendapatkan sebuah penerimaan dari sekolah yang
saya inginkan berhasil dan semangat untuk menjalani sebuah proses di perguruan
tinggi. Dan YAKINLAH BISA MAKA KITA PASTI BISA.
Astri Wahyuningtyas
PERJALANAN ILMUKU
Assalamualaikum
Wr. Wb.
Perkenalkan,
saya adalah mahasiswi prodi PGSD-FKIP-UNEJ angkatan tahun 2013. Saya lahir
tahun 1996 di luar kabupaten Jember dari keluarga kurang mampu dan saya yang
ingin mencukupi kebutuhan keluarga saya nantinya khususnya kebutuhan kedua
orang tua saya. Saya ingin
membahagiakan mereka, saya ingin mereka bangga bahwa tidak akan sia-sia mereka
merawat dan mendidik saya sampai sekarang ini. Bapak saya
seorang penjual tahu dan tempe keliling, yang setiap pagi setiap hari harus
mengayuh sepeda tuanya agar bisa memenuhi kebutuhan keluarga termasuk kebutuhan
pendidikan bagi ketiga anaknya, Ibu bekerja sebagai buruh setrika di rumah
tetangga, mungkin karena kurangnya penghasilan bapak, jadi ibu ingin membantu
menambah penghasilan keluarga.
Saya
putri kedua dari tiga bersaudara. Kakak laki-laki saya (Alhamdulillah) sudah
sarjana dan sudah bekerja dan adik perempuan saya masih duduk di bangku kelas
enam Sekolah Dasar. Alhamdulillah… Keluarga saya masih termasuk keluarga yang
utuh sampai sekarang ini.
Banyak lika-liku perjalanan hidup dan pengalaman yang pernah saya alami selama
hidup saya termasuk perjalanan hidup saya hingga akhirnya sekarang bisa
menuntut ilmu di Universitas Jember. Universitas impian saya dan termasuk
teman-teman saya.
Yah.. keluarga saya memang keluarga
yang kurang mampu. Bahkan untuk menyekolahkan saya dan kedua saudara saya di
bangku Taman Kanak-kanak saja tidak bisa. Memang, saya dan kedua saudara saya
tidak pernah mengenyam yang namanya Pendidikan Anak Usia Dini atau Taman
Kanak-kanak, jadi maklum saja jika saya kurang tahu lagu anak-anak yang sering
di nyanyikan di PAUD atau di TK. Saya memang tak mempunyai guru di TK, namun
saya bangga mempunyai guru yang sejak saya masih bayi mengajarkan saya berbagai hal. Berhitung, menulis,
membaca, bernyanyi, semua saya dapatkan dari guru kebanggan saya, yaitu IBU.
Meskipun guru kebanggan saya bukan sarjana atau lulusan sekolah guru, namun
guru yang belum lulus Sekolah Dasar
tersebut mampu menjadi guru TK yang menurut saya guru yang sebenarnya. Beliau,
guru pertama yang saya temui dalam hidup saya. Guru yang tak butuh gaji setiap bulannya, guru yang tak
ada batas usia pensiun, juga guru yang 24 jam mengajarkan berbagai hal pada
anak-anaknya.
Dengan
hanya berbekal pengetahuan yang saya dapatkan dari Ibu saya selama belajar di
rumah. Ibu saya memberanikan diri mendaftarkan saya ke bangku Sekolah Dasar
tahun 2001, usia saya masih belum genap 6 tahun yaitu masih 5 tahun lebih 4
bulan. Menurut cerita Ibu saya, saya sempat ditolak di SD tempat saya mendaftar
tersebut karena faktor usia yang kurang mencukupi. Alasannya para guru takut
jika saya tidak bisa menguasai materi di SD dan akhirnya ketinggalan dalam
materi pelajaran. Tetapi Ibu saya tak berhenti sampai disitu saja untuk bisa
menyekolahkan putrinya, Ibu berunding dengan kepala sekolah dan wali kelas 1.
Ibu meyakinkan kepada mereka, jika di kelas saya termasuk anak yang ketinggalan
dalam penguasaan materi pelajaran daripada teman-teman yang lain, pihak sekolah
sangat boleh tidak menaikkan kelas saya. Dengan keterbukaan Ibu saya, maka
pihak sekolah mau menerima saya menjadi siswa SD tersebut.
Terbukti…pada
saat ajaran baru di mulai dan seiring dengan berjalannya proses belajar mengajar,
saya cukup bisa menguasai semua mata pelajaran yang di ajarkan. Dan Ibu tak
perlu menanggung malu jika putrinya
tinggal kelas karena setiap tahun saya selalu naik kelas dan selalu meningkat
dalam peraihan peringkat, yang pada kelas 1 masuk 20 besar pada akhirnya pada
kelas 6 meraih peringkat 2. Saya
lulus dari Sekolah Dasar tahun 2007.
Pada waktu pendaftaran SMP, lulusan tahun angkatan saya
mengikuti tes tulis penerimaan siswa baru, nilai tes tersebut yang dipakai
sebagai dasar dalam pemeringkatan nomer urutan calon peserta di setiap SMP.
Nilai saya pada saat tes tersebut tidak terlalu bagus, jadi maklum saya ditolak
oleh sekolah yang dianggap favorit. Saya melihat kekecewaan di mata Bapak saya
ketika keinginannya ingin menyekolahkan saya di sekolah favorit tidak bisa
terwujud. Tetapi bagi saya itu tak jadi masalah, menurut saya dimanapun kita
menimba ilmu, di sekolah favorit sekalipun jika kita tidak bisa menyerap
ilmunya, itu sama saja sia-sia. Beruntung, saya masih diterima di SMPN yang
masih dalam urutan 5 besar terbaik di kota saya pada waktu itu.
Berbeda saat SD, saya selalu berjalan kaki setiap
harinya, namun mengingat jarak rumah saya dan SMP tersebut cukup jauh, maka
saya mengayuh sepeda setiap hari untuk bisa sampai ke depan “Pintu Gerbang
Pendidikan”. Di awal tahun ajaran baru, saya masuk di kelas VIIC. Di kelas
tersebut saya selalu masuk dalam urutan peringkat 3 besar dalam penerimaan
nilai raport. Hari demi hari saya jalani dunia SMP termasuk proses belajar
mengajarnya. Ketika masuk tahun kedua, saya masuk di kelas VIIIA. Tidak jauh
berbeda pada saat kelas VII, saya masih bisa mempertahankan prestasi saya, semua
saya jalani dengan ikhlas dan keinginan saya ingin membahagiakan kedua orang
tua dan keluarga menjadi salah satu motivasi tersendiri dalam hidup saya. Masuk
tahun ketiga ketika saya SMP, saya masuk di kelas IXB. Di kelas IX ini, saya
meningkatkan kualitas dan kuantitas belajar saya, karena saya tahu bahwa
sebagian besar penghuni di kelas saya adalah murid-murid yang termasuk
berprestrasi. Tak sia-sia saya belajar giat, saya masih bisa masuk dalam urutan
3 besar di kelas pada waktu itu. Saat ujian SMP tiba, saya sangat berharap agar
nilai saya memuaskan kedua orang tua saya. Saya lulus dan tak perlu mengikuti
ujian susulan, namun saya mengecewakan mereka untuk kedua kalinya. Saya tidak
bisa masuk dalam kategori peraih 10 besar terbaik nilai ujian dari 6 kelas pada
waktu itu.
Karena nilai ujian yang dipakai untuk pendaftaran masuk
SMA, alhasil saya tidak bisa lagi sekolah di sekolah favorit pada saat itu.
Kegagalan besar yang saya alami untuk kedua kalinya. Nilai tersebut
mengantarkan saya pada sebuah SMA pinggiran kota di tengah masyarakat yang
mayoritas berbahasa madura. SMA ini sangat jauh dari rumah saya, jadi untuk
bisa sampai ke sekolah, saya harus naik angkot. Maklum, pada saat itu saya
masih belum mempunyai sepeda motor. Meskipun SMA ini sekolah negeri biasa,
namun unsur keagamaannya kental sekali, serasa bersekolah di Madrasah Aliyah
saja. Setiap pagi, 15 menit sebelum pelajaran dimulai, seluruh siswa dan guru
harus sholat dhuha di masjid dan membaca 1 halaman Al-Qur’an yang dipandu oleh
seorang siswa yang bergantian setiap harinya dengan menggunakan pengeras suara.
Sekolah MAN yang bertetangga dengan sekolah saya saja tak sampai begitu.
Awal masuk tahun ajaran baru, saya duduk di kelas XE,
kelas yang terkenal mayoritas anak nakal. Pada saat mata pelajaran geografi,
saya dan teman-teman diberi informasi bahwa untuk sekarang ini semua bisa
melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Menurut guru geografi
tersebut, biaya tak akan jadi masalah jika kita benar-benar niat ingin sekolah.
Menurut beliau, negara mempunyai program beasiswa kepada para calon mahasiswa
yang tergolong kurang mampu namun berprestasi dan mau melanjutkan kuliah,
beasiswa bidik misi katanya.
Sejak
saat mengetahui beasiswa tersebut, saya berusaha mendapatkan beasiswa itu,
dengan tujuan ingin meringankan beban kedua orang tua dan ingin membanggakan
mereka. Alhamdulillah…usaha yang diimbangi dengan tawakal, saya selalu masuk
dalam urutan 5 besar paralel pada waktu itu. Saya sering mewakili sekolah dalam
kegiatan olimpiade setingkat kota, meskipun tak ada satupun yang bisa saya
menangkan, namun itulah pengalaman saya.
Ketika
kelas XI, saya harus memilih 1 dari 3 jurusan di sekolah saya, karena pihak
sekolah tidak bias menentukan saya harus masuk jurusan apa, mugkin karena nilai
semua mapel di atas KKM. Saya lebih memilih jurusan IPS, karena bagi saya suka
dengan mata pelajaran ekonomi pada waktu itu, dan tak yakin jika nantinya saya
memilih jurusan IPA, saya bias menguasai mapel fisika dan kimia. Pilihan saya
pada waktu itu sangan ditentang oleh pihak keluarga, mereka ingin saya masuk
jurusan IPA. Saya berusaha meyakinkan mereka, karena tak semua orang bisa
sukses yang hanya melalui rumpun ilmu pasti tersebut. Saya berjanji bahwa
dengan memilih jurusan IPS tersebut, saya juga bisa membuat mereka bangga.
Di
kelas XI ini, saya mendapatkan sahabat-sahabat terbaik saya, 3 orang sahabat
yang sampai sekarang masih bersama saya di Universitas Jember ini. Ketika
memasuki kelas XII, yang pada waktu itu masih persiapan melaksanakan Ujian
Nasional dengan sistem20 paket setiap kelas, saya sangat berusaha menguasai
materi UN, termasuk 3 mapel rumpun IPS. Saya tak ingin mengecewakan kedua orang
tua untuk yang ketiga kalinya. Saya juga ingin mendapatkan beasiswa bidikmisi
yang diberikan oleh negara itu. Ketika pengumuman hasil UN, saya masuk dalam
peringkat 5 besar paralel jurusan IPS.
Perjalanan
yang tak akan saya lupakan seumur hidup saya adalah ketika ingin memasuki dunia
perkuliahan. Sekitar bulan Januari, ketika pendaftaran SNMPTN dan beasiswa
bidikmisi dibuka, saya langsung mengikuti seleksi tersebut dan berharap lolos
ketika pengumuman hasil SNMPTN. Saya mendaftar di 2 perguruan tinggi negeri,
universitas negeri dan politeknik negeri. Namun, Allah SWT belum berpihak
kepada saya, ternyata saya gagal untuk yang ketiga kalinya. Kedua perguruan
tinggi tersebut belum bisa menerima saya menjadi calon mahasiswanya. Pada saat
itu, saya merasa tak ada gunanya. Dari 4 orang yang bersahabat, hanya saya yang
belum bisa lolos SNMPTN.
Namun,
berkat motivasi orang tua, guru, sahabat dan orang-orang sekitar, saya mampu
bangkit dan mempersiapkan diri untuk mengikuti UMPTN (Ujian Masuk Politeknik
Negeri). Saya berangkat dengan teman-teman seperjuangan, berangkat shubuh
pulang malam. Saya beruntung, tes pada
waktu itu dilaksanakan siang sampai sore hari, jadi saya tidak perlu menginap.
Namun, kegagalan lagi yang hanya saya dapatkan. Nama saya tak tercantum disatu
prodipun yang saya pilih. Saya gagal untuk yang keempat kalinya. Mulai saat
itu, saya mulai tak ada semangat untuk melanjutkan study di bangku kuliah.
Karena yang saya dapatkan hanya kegagalan, kegagalan dan kegagalan.
Ketika
pendaftaran SBMPTN dibuka, saya tak ada niat mengikuti tes tersebut. Namun,
ketika melihat wajah kedua orang tua yang penuh harapan, akhirnya saya memulai
belajar lagi, mempersiapkan diri untuk SBMPTN itu. Saya mengikuti SBMPTN di
UNEJ dan memilih prodi-prodi di UNEJ
pula. Namun, lagi-lagi kegagalan yang saya dapatkan. Saya serasa ditolak oleh
UNEJ, meskipun saya sadar mungkin hasil SBMPTN saya tidak masuk dalam kriteria
penerimaan. Sudah 5 kali saya gagal dalam hidup. Tidak diterimanya saya melalui
jalur SBMPTN ini tak begitu membuat saya sampai menangis, karena memang dari
awal saya tak ada niat mengikuti tes ini. Namun, saya sedih ketika melihat
wajah kedua orang tua saya saat mengetahui
putrinya gagal lagi. Mulai dari itu, saya bangkit kembali, berkat
mereka.
Ada
jalur lagi yang pasti, yaitu UM lokal atau tes MANDIRI. Tes ini saya memang
niatkan untuk kedua orang tua saya, saya usahakan untuk mereka. Meskipun saya
tahu bahwa jalur ini lebih mahal 2 kali lipat dari SNMPTN juga SBMPTN. Namun,
yang paling penting pada waktu itu adalah, saya diterima dulu baru nanti
memikirkan cara mendapatkan uang. Maklum, kedua orang tua saya adalah keluarga
pas-pasan. Pada waktu itu, saya mengikuti ujian di Universitas Jember. Belajar,
berdoa, dan berserah diri kepada-Nyalah yang bisa saya lakukan. Entah mengapa,
ketika tes ini berlangsung…saya begitu yakin dengan jawaban-jawaban saya. Saya
cukup optimis lolos melalui jalur ini. Pilihan pertama saya adalah adalah Fakultas
Ekonomi prodi akuntansi, dan pilihan kedua FKIP prodi PGSD.
Alhamdulillah…ketika
pengumuman hasil UM-UNEJ, saya mendapat ucapan selamat dari kakak saya. Maklum,
saya tak melihat sendiri hasil pengumumannya karena trauma dengan
kegagalan-kegagalan yang pernah saya alami. Karena tak percaya dan ingin
melihat sendiri hasilnya, jadi saya langsung pergi ke warnet untuk memastikan
sendiri. Saya tidak lolos di pilihan pertama, namun di pilihan kedua yaitu,
FKIP-PGSD. Inilah hasil dari kegagalanku yang berkali-kali, akhirnya saya bisa
bersama-sama lagi dengan ketiga sahabat saya. Saya bisa kuliah, itu artinya
saya membuat kedua orang tua saya bangga.
Nah,
sekarang sudah bisa kuliah. Itu artinya harus membayar uang kuliah. Ketika
Bapak saya verifikasi masalah uang UKT yang harus dibayar, ternyata saya
terpilih di kelompok 2 yang harus membayar uang kuliah 2,5 juta rupiah setiap
semester. Uang yang tak sedikit bagi keluarga saya. Bagaimana bisa kedua orang
tua saya mengumpulkan uang sebanyak itu
dalam waktu 6 bulan, belum lagi biaya hidup selama saya di Jember, ditambah
lagi kebutuhan sehari-hari kedua orang tua dan biaya sekolah adik. Saya sempat
stress memikirkan hal tersebut, pernah berfikir ingin mengundurkan diri. Tapi
Alhamdulillah…Bapak saya memperoleh uang pinjaman yang dipinjam dari tetangga
untuk membayar biaya UKT pertama.
Namun,
Allah SWT datang untuk membantu lewat teman saya yang sama-sama satu kota. Dia
memberitahu jika ada pengumuman yang menyatakan, bahwa bagi calon mahasiswa
UNEJ angkatan 2013 dari jalur masuk manapun yang memiliki kartu peserta
bidikmisi, maka bisa mengajukan untuk memperoleh beasiswa bidikmisi tersebut.
Saya langsung meluncur ke Jember sendirian keesokan harinya. Dan Alhamdulillah,
sekarang saya menjadi salah satu penerima beasiswa yang diberikan negara
tersebut. Beban orang tua menjadi lebih ringan dan dengan beasiswa tersebut,
saya menjadi semakin semangat untuk terus belajar dengan baik dan giat di
UNEJ-FKIP-PGSD.
Begitulah
perjalanan saya hingga sampai di prodi PGSD tercinta ini. Semoga saya dan kita
semua menjadi calon guru yang ikut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa
dan negara yang menjadi salah satu tujuan nasional kita. Itu salah satu bentuk
terima kasih saya kepada negara ini. Bentuk pengabdian karena membantu
meringankan beban kedua orang tua saya.
Semoga
apa yang saya bagikan diatas menjadi motivasi bagi kita semua. Percayalah bahwa
menuju kesuksesan selalu disertai banyak kegagalan. Belajarlah dari kesalahan di masa
lalu, mencoba dengan cara yang berbeda, dan selalu berharap untuk sebuah
kesuksesan di masa depan. Semoga kita semua selalu membanggakan
kedua orang tua, guru-guru kita, almamater kita, juga calon peserta didik kita
nantinya. Amin Ya Rabbal Alamin.
Wassalamualaikum
Wr. Wb.
Elma Deasy Maya Sahputri
Aku adalah anak perempuan yang lahir
dari sebuah keluarga sederhana ,dan anak pertama dari keluarga tersebut.Tiada
hari yang pernah kulewatkan untuk bersyukur telah dilahirkan di keluarga
sederhana ini namun penuh kebahagian dan kesehatan,kesehatan dan kasih sayang
tulus dari kedua orang tua.Ayahku bekerja sebagai Tukang Bangunan,Ibuku tidak
bekerja.
Awal pendidikan ku dimulai di sebuah
TK kecil tapi penuh kegembiraan di tempat kelahiranku selama 2 tahun,kemudian
berlanjut ke jenjang pendidikan Sekolah Dasar selama 6 tahun,di SD ini aku
pernah mendapat juara kelas beberapa kali,dilanjutkkan pendidikan jenjang SMP
selama 3 tahun,lalu jenjang pendidikan SMA selama 3 tahun,semua jenjang
pendidikan tersebut aku jalani dengan penuh kegembiraan dan kesungguhan hati dan
saat ini di Universitas Negeri Jember.
Untuk mencapai semua jenjang
pendidikkan tersebut penuh perjuangan,tapi selalu ada canda tawa dalam setiap
langkahnya.Seperti saat SMA aku mengikuti program undangan untuk masuk
perguruan tinggi yang didinginkan,tapi beberapa hari setelah pengumuman
kelulusan diumumkan bahwa aku tidak diterima melalui jalur undangan di
Universitas yang ku inginkan,tapi sebelum mengikuti seleksi masuk perguruan
tinggi negeri aku juga mengikuti berbagai tes ujian masuk,seperti tes ujian
masuk STIS,tapi gagal dan akhirnya perjuangan terakhir adalah mengikuti ujian
masuk perguruan negeri dengan jalur tulis dengan beribu-ribu peserta,tapi pada
akhirnya saya di terima di program dan Universitas yang aku pilih.
Menjadi seorang guru adalah
cita-citaku sejak kecil,sehingga saat diterima di program studi PGSD di
Universitas Jember ini aku sangat bersyukur.Motivasiku
untuk masuk ke program studi PGSD selain
untuk menjadi guru,suka bersosialisasi dengan anak-anakjuga ingin mewujudkan mimpi
dari orang tua untuk melihat anaknya sukses dan bisa lebih dari orang tuanya.Harapan
untuk semua ini semoga aku menjadi orang sukses,guru yang baik,dapat
membahagiakan orang tua dan dapat mengangkat derajad orang tua menjadi lebih
baik.
Devina Mega Malinda
Saya berasal
dari keluarga yang sederhana, Alhamdulilah saya bersyukur bisa duduk di bangku
perguruan tinggi seperti ini. Dulu pada waktu berumur 4tahun saya pernah
bersekolah di sebuah Tk DI DESA, yaitu TK PGRI 1 Gambiran-Banyuwangi, kemudian saya
melanjutkan di SD, SDN 3 Gambiran-Banyuwangi yang bertempat bersebelahan dengan
TK PGRI 1, lalu melanjutkan SMP di MTSN Genteng-Banyuwangi dan selanjutnya di
SMAN 2 Genteng-Banyuwangi. Sebuah kebanggaan dan keberuntungan serta sesuatu
yang sangat luar biasa bagi saya bisa melanjutkan diperguruan tinggi, dngan
perjuangan kedua orangtua saya, yang senantiasa selalu bekerja keras memeras
keringat, tak kenal lelah, lupa akan waktu demi membiayai saya saat ini. Beribu
syukur beribu terimakasih kepada Tuhan Yang Maha Esa yang selalu memberi rezeki
berlimpah kepada kedua orangtua saya sehingga saya dapat menimba ilmu sejauh
ini. Suatu kebanggaan tersendiri bagi saya bisa di terima di Universitas Jember
tercinta. Yang merupakan sebuah Universitas yang ingin saya menjadi mahasiswi
FKIP PGSD sejak saya duduk di bangku kelas 2 SMA. Pada ahirnya semua impian dan
kemauan saya di kabulkan oleh Allah. Tentunya juga dengan doa kedua orangtua
saya, keluarga dan dukungan dari teman-teman. Ahirnya saya benar-benar bisa menimba
ilmu di Universitas Jember, meskipun dengan usaha yang tidak mudah, saingan
yang tidak berjumlah sedikit, Jauh dengan keluarga dan orangtua tercinta bagi
saya ini hal yang paling tersulit di hidup saya yang pernah saya alami, dan
mereka juga yang telah mengobarkan semangat saya disini. Dengan semangat yang
besar dan doa kedua orangtua saya alhamdululah ahirnya saya bisa berada di
antara mereka. Karena tidak mudah, perlu usaha keras dan perjuangan yang berat
maka saya tidak akan menyia nyiakan kesempatan ini. InsyaAllah saya akan
belajar dengan sungguh-sungguh dan berusaha untuk lulus tepat pada waktunya,
tidak mengecewakan kedua orangtua dan keluarga. Saya sangat bangga dan bahagia
menjadi mahasiswi FKIP PGSD Universitas Jember. Mudah-mudahan semua ilmu yang
saya gali bisa bermanfaat untuk para generasi / orang-orang di sekitar saya,
bisa saya bagikan kepada mereka yang membutuhkan, agar menjadi manfaat bagi
mereka dan barakah untuk saya sendiri.
Rahmatanti Lylamatiin
Tri Fantovi Yahya
Ikhtiar dan Tawakkal
Demi Pencapaian yang Maksimal
Aku
terlahir dari keluarga biasa tepat 18 tahun yang lalu di sebuah desa yang
sangat terpencil tetapi sangat aku cintai sampai saat ini hingga seterusnya.
Dulu, ketika aku kecil aku senang bermain bersama teman-teman yang usianya
setara di desaku itu. Aku menatap masa depanku dengan penuh harapan. Entahlah
aku lupa usiaku saat aku masuk SD dulu. Akan tetapi, yang pasti aku lulus SD
tahun 2007, lulus SMP tahun 2010 dan lulus SMA tahun 2013. Pada kesempatan kali
ini, aku akan menceritakan pengalamanku sewaktu menginjak bangku SMP dan SMA
hingga ke perguruan tinggi. Kalau tidak salah aku masuk SMP tahun 2007. Aku
jalani masa-masa SMP dengan penuh semangat. Hanya saja saat SMP kelas VII aku
kesulitan mencari teman. Maklumlah dulu aku adalah orang yang pemalu dan
sukanya diam daripada berbicara. Aku sangat kesulitan beradaptasi dengan
teman-teman satu kelasku waktu itu. Aku paling tidak suka jika ada teman yang mengejek,
menyepelekan, dan menjahiliku. Rasanya ingin sekali aku memukulnya, tapi aku
tidak berani melakukan itu jadi aku hanya bersabar. Mengenai prestasiku, aku
bersyukur masuk urutan sepuluh besar di kelas.
Memasuki
kelas VIII aku diperkenalkan tentang ekstrakulikuler MTQ (Musabaqah Tilawatil
Quran). Entah karena apa aku tertarik mengikuti ekstra itu. Di MTQ aku
diajarkan tata cara membaca Al-Quran yang baik dan benar dengan menggunakan
lagu. Awalnya memang sulit, tetapi lama-kelamaan aku mulai bisa menguasai
bacaan dan cara melagukannya. Setelah mulai mahir, Aku diberi kesempatan untuk
mengikuti suatu even perlombaan tingkat kecamatan dan aku bersyukur dapat
menjadi juara 1 di perlombaan itu. Kemudian aku diutus untuk mewakili
kecamatanku untuk mengikuti perlombaan MTQ tingkat Kabupaten. Awalnya aku tidak
yakin bisa jadi juara lagi tapi di sisi lain aku bertekad untuk membahagiakan kedua
orang tuaku. Persiapan menuju perlombaan pun aku jalani, dengan banyak belajar
membaca dan dan melagukan ayat-ayat suci al-quran. Saat-saat perlombaan pun
tiba, satu persatu peserta pun menunjukkan kemampuannya masing-masing. Tibalah
saatnya giliranku. Aku berusaha untuk tenang dan optimis bisa menjadi juara
lagi. Akhirnya pengumuman pun disampaikan dan puji syukur, aku dapat juara 1
dalam perlombaan itu. Aku bangga, senang, sekaligus terharu dengan pencapaianku
saat itu. Aku juga senang bisa membuat orang tuaku bangga terhadapku. Namun
sayang, disaat aku mengikuti perlombaan tingkat provinsi, aku menderita sakit
batuk. Akhirnya aku pun mengundurkan diri mengikuti perlombaan itu. Tapi, aku
tetap bersyukur Tuhan telah memberikan kesempatan kepadaku untuk membahagiakan
kedua orang tuaku melalui prestasiku itu. Mengenai prestasiku di kelas, aku
masuk peringkat 5 besar saat itu.
Menginjak
bangku kelas IX, aku terus meningkatkan prestasiku dalam bidang akademik dengan
terus belajar dan berdoa. Syukur alhamdulillah, usahaku tidak sia-sia. Aku
masuk peringkat 3 besar di kelas dan lagi-lagi orang tuaku bangga terhadapku.
Saat Ujian Nasional aku mencoba mengerjakan sesuai dengan kemampuanku dan saat
pengumuman aku dinyatakan lulus. Memasuki masa-masa SMA atau putih abu-abu, aku
mencoba untuk lebih terbuka terhadap teman dan tidak menjadi orang yang pendiam
dan pemalu lagi. Duduk di bangku kelas X aku ikut test untuk memperebutkan
kursi di kelas terbaik saat itu yang dinamakan kelas bilingual. Alhamdulillah
aku masuk dalam 30 siswa yang terpilih untuk masuk di kelas itu. Sejak masuk
kelas itu, aku memperoleh banyak teman yang tidak aku temukan di bangku SMP.
Akan tetapi, prestasiku di kelas itu menurun karena persaingan di kelas itu
sangatlah ketat. Kelas XI aku mencoba ikut ekstrakulikuler musik dan aku
diterima sebagai vokalis. Dari ekstra tersebut aku memperoleh pengalaman-pengalaman
manggung saat ada even pentas seni di SMAku. Mengenai prestasiku saat itu, aku
masuk peringkat sepuluh besar di kelas. Saat kelas XI ini aku mulai disibukkan
dengan adanya bimbingan belajar hingga sore hari untuk persiapan UN.
Menginjak
kelas XII, aku berhenti untuk mengikuti ektrakulikuler musik demi fokus belajar
untuk meningkatkan prestasiku. Ternyata, usahaku kembali tidak sia-sia. Aku
masuk peringkat 5 besar paralel kelas di semester 1. Saat-saat menegangkan di
kelas XII adalah saat pelaksanaan Ujian Nasional yang saat itu terdapat 21
paket soal. Sebelum pelaksanaan UN, aku telah mempersiapkan jauh-jauh hari
belajar dan tidak lupa berdoa terhadap Tuhan yang Maha Kuasa. Dan saat
pengumuman pun tiba, alhamdulillah di sekolahku dinyatakan Lulus Ujian Nasional
100%. Perjuanganku tidak berhenti sampai disitu. Untuk memperebutkan kursi di
perguruan tinggi, aku harus mengikuti seleksi SNMPTN undangan. Aku memasukkan
program studi Pendidikan Agama Islam di UIN Malang sebagai prioritas utamaku.
Akan tetapi, Tuhan berkata lain aku tidak lolos seleksi itu. Aku sedih tapi
orang tuaku tetap memberikan semangat motivasi agar aku bisa bangkit lagi.
Keesokan harinya ada berita bahwa akan dilaksanakan test tulis SBMPTN dan orang
tuaku menyarankan agar aku ikut test itu.
Aku
pun mulai belajar secara autodidak. Sebenarnya, teman-teman mengajakku ikut
bimbingan atau les. Tapi, aku tidak mau membebankan kedua orang tuaku karena
jika ikut bimbingan tersebut aku harus membayar 50.000 per minggunya sehingga
akupun memutuskan untuk belajar sendiri dengan banyak mengerjakan soal-soal
latihan SBMPTN. Ujian tersebut dilaksanakan di kota Jember selama 3 hari.
Sebelum berangkat, aku tidak lupa meminta doa restu orang tuaku. Saat-saat
ujian pun tiba. Aku mengerjakan soal-soal ujian dengan tenang dan penuh
keyakinan. Dan saat pengumuman online, alhamdulillah aku dinyatakan lulus
SBMPTN di Jurusan PGSD Universitas Jember. Suasana haru pun tumpah di rumahku
saat itu. Aku langsung sujud syukur atas nikmat yang diberikan Tuhan kepadaku.
Aku tidak menyangka bisa lolos seleksi itu. Di lain sisi, aku sedih mendengar
kabar kalau teman-temanku tidak lolos seleksi itu. Tapi aku berdoa semoga Tuhan
memberikan jalan terbaik untuk mereka. Begitulah perjalanan hidup singkatku
semoga bisa menjadi inspirasi kita semua.
Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO

